Stasiun Lempuyangan Era Kolonial Sangat Modern, Rumah Sinyal Petunjuk Sejarah Tak Terbantahkan

5 Min Read
Old white two-story building with a red-tiled roof beside railway tracks, resting on a gray stone foundation.
Rumah Sinyal (seinhuis) adalah bangunan menara tempat petugas pengatur perjalanan kereta api mengoperasikan tuas-tuas mekanik (antropis) untuk mengubah wesel (pindah jalur) dan mengatur lampu atau lengan sinyal. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Masyarakat Yogyakarta tentu sudah tak asing dengan Stasiun Lempuyangan. Stasiun ini ternyata merupakan stasiun kereta api tertua yang ada di Yogyakarta dengan beragam nilai historis yang ada di sebaliknya.

Sejarah Stasiun Lempuyangan

Stasiun Lempuyangan berada di Kalurahan Bausasran, Kapanewon Danurejan, Kota Yogyakarta dengan luas lahan sekitar 45 ribu meter persegi.

Pembangunannya pada 1872 diinisiasi oleh sebuah perusahaan swasta Belanda yang bergerak di bidang transportasi, yakni Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschaappij (NISM).

Dibandingkan dengan Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan menjadi stasiun pertama yang dibangun lebih dahulu dengan tujuan pendistribusian gula pada akhir abad ke-19.

Kemudian stasiun ini juga melayani angkutan penumpang meskipun hanya rute Yogya menuju Semarang dan sebaliknya.

Stasiun Lempuyangan di Kota Yogyakarta resmi dibuka pada Maret 1872. Pada awal diresmikan, operasi Stasiun Lempuyangan bukan untuk melayani penumpang, tapi sebagai pusat pengangkutan komoditas perkebunan.

Terutama gula dan tembakau dari pabrik-pabrik di sekitar Yogyakarta menuju Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang.

Dilansir dari berbagai sumber, Kamis (24/9/2026), sekitar 1899, perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda (Staatsspoorwegen atau SS) juga mulai masuk ke Lempuyangan.

Hal ini terjadi setelah SS membangun jalur berukuran sepur selebar 1.067 mm. Saat pertama kali dibangun, kompleks Stasiun Lempuyangan tergolong sangat sederhana dan berukuran kecil, yaitu hanya sekitar 259 meter persegi.

Menariknya, bangunan stasiun tipe B ini didirikan di atas tanah milik Keraton Yogyakarta (sultan ground).

Stasiun Lempuyangan Sangat Modern

Stasiun Lempuyangan di era kolonial terhitung sudah sangat modern. Kompleks Stasiun Lempuyangan dilengkapi dengan gudang barang, menara air, jembatan timbang, depo lokomotif (yang kelak berkembang menjadi Balai Yasa Pengok), dan sebuah fasilitas paling vital, yaitu Rumah Sinyal.

Rumah Sinyal (seinhuis) adalah bangunan menara tempat petugas pengatur perjalanan kereta api mengoperasikan tuas-tuas mekanik (antropis) untuk mengubah wesel (pindah jalur) dan mengatur lampu atau lengan sinyal.

Di sinilah keselamatan ratusan nyawa diatur agar kereta tidak saling bertabrakan. Bangunan Rumah Sinyal di Stasiun Lempuyangan mulai dibangun bersamaan dengan kompleks stasiun tersebut dan dioperasikan perdana pada 10 Juni 1872.

Rumah Sinyal ini menjadi saksi bisu rivalitas dan integrasi dua raksasa kereta api Hindia-Belanda perusahaan NISM dan SS.

Perusahaan NISM (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) adalah perusahaan kereta api swasta pertama di Hindia Belanda yang didirikan pada 27 Agustus 1863.

Perusahaan ini menggunakan sistem dual gauge alias sepur gandar dan memakai rel lebar (1.435 mm). Sementara SS memakai rel sempit (1.067 mm).

SS atau Staatsspoorwegen adalah perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda yang didirikan pada 6 April 1875. Perusahaan ini merupakan cikal bakal dari PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Adanya perbedaan ini membuat terjadinya kerumitan luar biasa di wilayah Lempuyangan hingga Tugu. Kereta dari Jakarta (SS) tidak bisa langsung berjalan ke Solo tanpa membongkar muatan.

Akhirnya, dibangunlah sistem rel tiga batang (dual gauge) di jalur Jogja-Solo. Rumah Sinyal Lempuyangan memegang peranan krusial untuk mengatur lalu lintas yang luar biasa rumit ini.

Pada 1929, SS membangun jalur sendiri yang paralel di samping jalur NIS untuk memotong waktu tempuh kereta ekspres bergengsi Eendaagsche Express. Kereta ini menempuh perjalanan dari Batavia hingga Surabaya selama 13,5 jam.

Jalur SS ini memiliki titik operasional penting di Lempuyangan. Namun, saat Jepang datang pada 1942, jalur tambahan SS ini dibongkar total oleh Jepang untuk dipindahkan ke daerah lain, hanya menyisakan segmen di Lempuyangan yang kini digunakan sebagai jalur logistik/gudang semen.

Secara arsitektur, Rumah Sinyal Lempuyangan (baik Sinyal A di sisi barat maupun Sinyal B di sisi timur pada masanya) dirancang tinggi, menyerupai menara pengawas agar petugas memiliki jarak pandang bebas hambatan ke arah seluruh emplasemen stasiun Lempuyangan.

Sistem Persinyalan Elektrik

Seiring modernisasi teknologi perkeretaapian di PT Kereta Api Indonesia (Persero), sistem persinyalan mekanik di Stasiun Lempuyangan telah digantikan oleh sistem persinyalan elektrik yang dikendalikan dari ruang PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api) yang modern dan digital yang terekam dalam komputer.

Rumah Sinyal berdiri tegak menghadap rel di sisi barat Stasiun Lempuyangan. Seolah-olah mengingatkan setiap orang yang lewat bahwa di tempat inilah, roda besi pertama kali berputar mengubah sejarah peradaban Kota Yogyakarta. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar