Di warung kopi Kalijodo, para tetua perantau Mandar (Sulbar) di Jakarta, nama Haji Hammadia atau Hamma’dia atau sering pula disebut Ahmadiyah, sering membuat dahi berkerut. Haji Ahmadiyah sering disebut-sebut sebagai sahabat Soekarno, pemasok besi baja untuk Istiqlal dan Monas.
Baca juga: Jejak Haji Hammadia, Pemasok Besi Istiqlal dan Monas yang Hilang dalam Sejarah (Bagian 1)
Sebab itu namanya seringkali dikaitkan atau tertukar dengan Jemaah Ahmadiyah Indonesia. Apalagi beliau juga aktif dalam kegiatan keagamaan, tokoh religius, sering mendatangkan syekh-syekh turunan Arab di kediamannya dan jemaahnya juga disebut sebagai Jemaah Haji Hammadia atau Jemaah Ahmadiyah.
“Maksudnya adalah jemaah kumpulan dari Haji Ahmadiyah yang terdiri dari karyawan PT. Air Baja berbagai kalangan, terutama perantauan Mandar, Bugis, dan Makassar di Jakarta sekitar tahun 1960-an,” kenang KH. Ahmad Ma’ruf di masa hidupnya.
Artinya penyebutan jemaah yang mirip namanya di atas itu dua hal yang berbeda.
Nama-nama yang Tak Disebut dalam Prasasti
Sejarah Istiqlal memang penuh nama-nama yang jarang disebut di prasasti.
Koropak.co.id menulis pembangunan masjid terbesar di Asia Tenggara itu diprakarsai Soekarno sejak 1953 bersama KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, Anwar Tjokroaminoto, dan ide itu baru diwujudkan dengan Yayasan Masjid Istiqlal 7 Desember 1954.
Kuli Saksi Peletakan Batu Pertama Istiqlal
Kemenag.go.id dalam liputan 4 Januari 2019 mengisahkan Mbah Parno, kuli yang jadi saksi peletakan batu pertama 24 Agustus 1961 oleh Soekarno, saat Friedrich Silaban, arsitek Kristen Protestan, memenangkan sayembara dengan sandi Ketuhanan.
Di balik beton dan marmer Istiqlal yang megah itu, ada cerita besi.
“Kalau semen dari SIG, baja untuk kubah 45 meter dan 12 pilar raksasa itu harus didatangkan dari Krakatau Steel yang baru dirintis,” kata Ramlan Marjuned, mantan Ketua Ikatan Masjid Indonesia yang diwawancarai dalam skripsi Pandangan Politik Soekarno dalam Membangun Masjid Istiqlal yang dikutip kanzunqalam.com.
Di sinilah nama Hammadia muncul dalam tutur lisan pedagang Pasar Senen dan Klender Lama. Namun ia digambarkan sebagai pengusaha Minang-Jawa.
Lagi-lagi terjadi kebingungan data, ia disebut pemilik toko besi di kawasan kota, yang dekat dengan Soekarno sejak masa Bengkulu.
Konon, saat anggaran Istiqlal seret antara 1961-1965, ia yang menalangi pengiriman baja tulangan dari pabrik yang baru berdiri. Tidak ada kuitansi negara, hanya kepercayaan.
“Bung, pakai dulu besi saya. Masjid harus jadi,” begitu yang diceritakan cucunya dalam pengajian di Johar Baru, tahun lalu.
Hilangnya Nama Haji Hammadia dalam Sejarah
Tidak ada arsip digital resmi yang menulis nama Haji Hammadia sejajar dengan Friedrich Silaban. Jejaknya kalah oleh nama besar Teuku Markam, pengusaha Aceh yang menyumbang 28 kg emas Monas, seperti ditulis Grid.id yang nasibnya tragis dipenjara Orde Baru. Kemiripan nama inilah yang jadi mitos modern.
Ahmadiyah.org sendiri mencatat Soekarno memang dekat dengan mubalig Ahmadiyah Lahore, Mirza Wali Ahmad Baig, guru ngajinya di Jawa sejak 1924.
Kedekatan itu membuat publik mudah tertukar: Haji Ahmadiyah si pemasok besi yang dianggap bagian dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) yang lahir 1925.
Tidak Berkarat Karena Doa
Padahal satu adalah nama orang, satu adalah organisasi keagamaan. Kisah lain, konon besi Istiqlal disebut tidak berkarat karena doa.
Intisari.grid.id menulis fakta tekniknya. Istiqlal ditopang 5.138 tiang pancang, menara 96,66 meter dari baja antikarat, dibangun untuk bertahan ribuan tahun sebagai nation and character building Soekarno.
Hammadia, atau Haji Ahmadiyah, tidak punya menara. Namanya hidup di cerita tukang, di nota lusuh toko besi, dan di kebingungan kita yang selalu menyamakan nama orang dengan nama jemaat. (Bersambung).
