Mabur.co – Artefak kuno berupa ambang pintu batu seberat sekitar satu ton, dan tiga buah fragmen arca dievakuasi dari dua desa di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Benda-benda yang diduga merupakan peninggalan bersejarah yang berasal dari dua lokasi berbeda itu dipindahkan ke Museum Sri Aji Jayabaya agar tetap terjaga kelestariannya.
Artefak berupa ambang pintu batu sendiri berasal dari lahan di belakang rumah warga Desa Purwokerto, Kecamatan Ngadiluwih.
Keberadaan artefak ini sebenarnya telah tercatat oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kediri sejak sekitar 2005 lalu, namun baru bisa dievakuasi Oktober ini.
Kondisi Ambang Pintu Masih Utuh
Staf Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan, Disparbud Kediri, Ahmad Khudori, mengatakan, benda itu baru dievakuasi setelah pemilik lahan berencana pindah. Kondisi ambang pintu batu tersebut masih utuh, tetapi usia dan periodenya belum diketahui.
“Kalau untuk abad berapa, belum terdeteksi. Nanti masih perlu kajian,” kata Khudori dilansir Tribun Jatim, Sabtu (24/10/2026).
Selain ambang pintu batu, Disparbud Kediri juga mengevakuasi tiga fragmen arca dari Desa Sidomulyo, Kecamatan Wates. Kondisi ketiga fragmen tersebut telah mengalami pelapukan.
Salah satu fragmen diperkirakan merupakan arca Nandi, figur lembu yang berkaitan dengan tradisi Hindu. Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan kajian tim ahli.
“Kalau kita memperkirakan, itu fragmen arca Nandi. Tapi kita belum bisa menentukan. Kita menunggu kajian dari tim ahli,” ujar Khudori.
Kepala Bidang Sejarah dan Kepurbakalaan, Disparbud Kediri, Eko Priatno Triwarso, mengatakan pemindahan benda-benda yang diduga sebagai peninggalan sejarah tersebut telah dilakukan dalam dua hingga tiga tahun terakhir.
Langkah ini dilakukan untuk mencegah kerusakan maupun terjadinya kasus pencurian, sekaligus memastikan benda-benda itu dapat dirawat dan dipelajari masyarakat.
Disparbud Kediri saat ini juga masih terus melakukan pendataan serta berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait keberadaan benda bersejarah lainnya. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah kawasan perkebunan di Kecamatan Plosoklaten.
13 Objek Belum Dievakuasi
Menurut Eko, terdapat sekitar 13 objek di kawasan tersebut yang belum dievakuasi. Mayoritas berupa arca dan struktur batu. Sebagian objek dilaporkan mengalami keausan atau kerusakan akibat lama terpapar kondisi lingkungan.
Pendataan dan upaya pelestarian objek-objek itu saat ini masih dikoordinasikan dengan pihak pengelola perkebunan masing-masing.
Sebelum dilakukan penanganan lebih lanjut, tim mengaku harus mempertimbangkan sejumlah hal baik itu kondisi benda, lokasi keberadaan, serta kesepakatan dengan pihak terkait.
Eko mengatakan, peninggalan bersejarah tersebut memiliki nilai penting untuk membantu merekonstruksi perjalanan sejarah Kediri dari masa ke masa. Karena itu, pendataan dan perawatan diperlukan agar benda-benda tersebut tidak hilang atau mengalami kerusakan lebih lanjut.
“Yang penting bagi kami adalah bagaimana benda-benda itu tetap terawat dan bisa menjadi bagian dari edukasi sejarah untuk generasi muda,” kata Eko. ***
