Mabur.co – Pameran seni rupa Nandur Srawung 2026 memasuki edisi ke-13 dengan pendekatan baru dalam membaca perkembangan seni kontemporer Indonesia.
Kurator Nandur Srawung 2026, Gintani Swastika, mengatakan, Nandur Srawung mengangkat sub tema Akademi: Lanskap.
“Tema tersebut menjadi upaya untuk membaca dan memetakan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia melalui berbagai perspektif, mulai dari gagasan artistik, metode kerja, praktik berkesenian, hingga keterlibatan publik,” katanya, Sabtu (24/10/2026).
Gintani mengatakan, sebanyak 100 seniman terpilih berasal dari berbagai daerah, di antaranya Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, Bali, Jambi, dan Riau.
“Mereka membawa latar belakang serta medium berkarya yang beragam,” ucapnya.
Pengembangan Seniman Muda
Menurut Gintani, tema Akademi menjadi bagian dari platform kuratorial tiga tahunan yang dirancang untuk memperluas ruang pengembangan seniman muda.
Platform tersebut berlangsung selama tiga tahun, dengan Lanskap sebagai tema pada 2026, Lab pada 2027, dan Lintasan pada 2028.
“Penyelenggaraan tahun ini menjadi momentum untuk meninjau kembali posisi Nandur Srawung dalam ekosistem seni rupa, terutama dalam memberikan ruang bagi seniman muda untuk mengembangkan praktik dan pengetahuannya,” katanya.
Pameran ini pun menghadirkan seniman dengan perjalanan artistik yang berbeda, mulai dari Siti Adiyati, Titarubi, Nadiah Bamadhaj, dan Maryanto, hingga seniman muda seperti Ipeh Nur, Marten Bayuaji, dan Mira Rizki.
Perluas Pemahaman Seni Rupa Kontemporer
Gintani menjelaskan, Nandur Srawung juga tidak hanya menyuguhkan pameran, Nandur Srawung 2026 menghadirkan sejumlah program publik untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap seni rupa kontemporer.
Salah satunya adalah Kelas Penulisan Seni yang diikuti 10 penulis seni muda dari Yogyakarta dan sekitarnya.
Program ini dirancang untuk mengasah kemampuan peserta dalam membaca karya, mengembangkan kritik seni, serta menyampaikan gagasan melalui tulisan.
“Peserta akan mempelajari observasi, analisis karya dan pameran, hingga penulisan kontekstual dengan mempertimbangkan perspektif sosial, budaya, dan praktik artistik,” katanya.
Nandur Srawung 2026 juga memberikan Lifetime Achievement Award kepada seniman Melati Suryodarmo.
Penghargaan tersebut, lanjut Gintani, merupakan bentuk apresiasi atas dedikasi, komitmen, dan kontribusinya terhadap perkembangan seni kontemporer Indonesia.
“Rangkaian penghargaan akan dilanjutkan dengan Pidato Kebudayaan oleh Melati Suryodarmo. Dalam pidato tersebut, ia akan merefleksikan gagasan mengenai ‘diri’ dan ‘jiwa’ berdasarkan perjalanan panjang praktik artistiknya, termasuk upaya melampaui dikotomi pemikiran Barat dan Timur dalam konteks masyarakat pascakolonial,” ucapnya.
Menurut Gintani pula, terdapat Audience Recognition Award yang diberikan kepada seniman peserta panggilan terbuka sebagai bentuk apresiasi terhadap karya yang mendapat perhatian publik selama pameran berlangsung.
Untuk mendukung ekosistem penerbitan seni, Nandur Srawung 2026 menggandeng Yogyakarta Art Book Club (YKABC) dalam pengelolaan Kios Seni.
“YKABC merupakan komunitas yang menaungi Yogyakarta Art Book Fair dan menjadi ruang pertemuan bagi praktisi penerbitan untuk bertukar gagasan serta membangun infrastruktur pendukung penerbitan seni di Yogyakarta. Kios Seni dibuka untuk publik selama periode pameran,” katanya.
Isu Palestina pun Menguat
Salah seorang pengunjung asal Bantul, Dinna, mengaku tertarik dengan karya Begok Oner yang mengangkat isu Palestina.

Menurutnya, karya seni dapat menjadi sarana menyampaikan aspirasi dan keresahan masyarakat di tengah situasi Indonesia saat ini.
“Bangga saja karena masih ada seniman yang mau menyuarakan aspirasinya lewat karya seni. Jadi, untuk menyampaikan keresahan, tidak harus selalu turun ke jalan atau ikut demonstrasi,” katanya.
Dinna mengatakan, kunjungannya kali ini merupakan pengalaman kedua setelah menghadiri Nandur Srawung tahun sebelumnya.
Ia berharap semakin banyak seniman berpartisipasi agar lebih banyak gagasan dan persoalan masyarakat dapat disampaikan melalui karya seni.
“Pameran ini juga dapat memantik rasa ingin tahu pengunjung yang belum terlalu memahami seni. Beragam karya dan perspektif yang ditampilkan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal seni sekaligus memahami pesan di baliknya,” ucapnya senang apalagi pameran ini ditutup hingga 28 Oktober 2026. ***
