Mabur.co – Perjalanan Jakarta dari kawasan kampung hingga menjadi kota metropolitan diangkat dalam pameran arsip bertajuk “Dulu Kampung Gue, Sekarang Kota Kite”.
Pameran ini menghadirkan arsip, karya sastra, artefak, dan benda bersejarah terkait perkembangan Jakarta dari masa ke masa.
Digelar sebagai bagian dari Festival Pustakarsa 2026, kegiatan ini berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, akhir pekan kemarin.
Lewat festival ini pengunjung diajak untuk menikmati perpustakaan, kearsipan, dan sastra dalam satu rangkaian.
Rekaman Sejarah
Dikutip dari Elshinta.com, Sabtu (24/10/2026), pameran bertajuk “Dulu Kampung Gue, Sekarang Kota Kite” mengajak masyarakat melihat perubahan kota melalui berbagai rekaman sejarah yang ditampilkan dalam bentuk dokumen hingga benda-benda peninggalan masa lampau.
Dengan melihat langsung berbagai koleksi dalam pameran ini, pengunjung akan dapat menelusuri perkembangan Jakarta sekaligus memahami jejak kehidupan masyarakat di masa lalu.
Salah satunya bagaimana sebuah kawasan permukiman dan kehidupan kota berubah seiring perjalanan waktu.
Selain menyasar pecinta sejarah, pameran ini juga menyasar pada pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum.
Selain pameran, Pustakarsa 2026 juga menghadirkan Festival Literasi Jakarta bertajuk “Jakarta dalam Kata”. Rangkaian kegiatan meliputi diskusi bersama penulis, lokakarya kreatif, pameran komunitas literasi, pertunjukan, serta bazar buku murah.
Sejumlah agenda lain juga turut digelar di antaranya Piknik Baca Jakarta, Urban Reading Walk, lokakarya menulis dan hand lettering, serta kegiatan membaca nyaring untuk anak dan keluarga.
Dilansir situs resminya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta juga menyiapkan buku sejarah pemerintahan Jakarta yang berjudul “Dulu Kampung Gue, Sekarang Kota Kite: 500 Tahun Pemerintahan Jakarta”.
Menelusuri Perjalanan Pemerintahan Jakarta Lima Abad
Buku ini disusun sebagai naskah sumber arsip untuk menelusuri perjalanan tata kelola pemerintahan Jakarta selama lima abad.
Bahasannya pun cukup luas. Mencakup perkembangan Jakarta sejak era pelabuhan Sunda Kelapa dan Jayakarta, pembentukan benteng serta Gemeente Batavia pada masa kolonial, hingga pemerintahan Djakarta Tokubetu Shi pada masa pendudukan Jepang.
Selain itu buku ini juga mengulas sistem Tonarigumi yang disebut sebagai cikal bakal RT/RW, perkembangan Kotapraja menjadi Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Ali Sadikin, serta penyesuaian birokrasi dalam menghadapi krisis, termasuk pandemi COVID-19.
