Menyoal Harus Bayar Tujuh Poundsterling untuk Baca Naskah Keraton, Ahli Manuskrip Sejarah UGM Sri Margana: Sekadar Baca Tidak Bayar

3 Min Read
Open antique manuscript with dense handwritten text on a desk; gloved hands and a scanning device nearby.
Proses digitalisasi naskah: keraton sedang berupaya besar-besaran melakukan digitalisasi naskah tua miliknya. (Foto: Keraton Yogya)
2 dari 2 Series - Sultan Bayar Tujuh Pound Baca Naskah Kuno Keraton: Ini Tanggapan Ahli Manuskrip Sejarah UGM S. Margana
Portrait of a person with shoulder-length dark hair and glasses, standing in front of a bookshelf.
Sultan Bayar Tujuh Poundsterling Baca Naskah Kuno Keraton: Ini Tanggapan Ahli Manuskrip Sejarah UGM Sri Margana
Open antique manuscript with dense handwritten text on a desk; gloved hands and a scanning device nearby.
Menyoal Harus Bayar Tujuh Poundsterling untuk Baca Naskah Keraton, Ahli Manuskrip Sejarah UGM Sri Margana: Sekadar Baca Tidak Bayar
Saat ini

Mabur.co – Khusus naskah yang dirampas dari keraton Yogya dalam peristiwa Geger Sepehi disimpan di beberapa lembaga Inggris terutama di British Library.

Naskah-naskah itu sebagian (75) naskah sudah didigitalkan dan arsip digitalnya diberikan kepada keraton Yogyakarta beberapa tahun lalu.

“Digitalisasi naskah itu dibiayai oleh seorang tokoh, bukan orang Indonesia, yang memiliki perhatian terhadap konservasi naskah,” tutur ahli manuskrip sejarah UGM Sri Margana.

Kalau Sekadar Baca Tidak Bayar

Menurut Sri Margana pula, di Eropa naskah-naskah itu dirawat dengan sangat baik, ditempatkan di ruang dengan suhu tertentu dan teknologi yang memadahi, dilakukan tenaga ahli yang berkualitas.

Untuk itu semua diperlukan biaya yang tinggi. Jadi wajar jika dalam pelayanan publik lembaga seperti British Library London dan juga UB di Leiden mengenakan biaya bagi mereka yang ingin memiliki salinannya.

“Hal ini berlaku untuk semua pengunjung tanpa melihat kebangsaan. Kalau sekadar membaca setahu saya tidak perlu bayar,” tulis akademisi UGM ini dalam wawancara tertulis dengan mabur.co, Minggu (25/10/2026).

Dijelaskan pula oleh Sri Margana, untuk 75 naskah dari keraton Yogya yang sudah didigitalkan sebagian dapat diakses (dibaca) gratis secara online.

“Namun belakangan situs diretas, sehingga untuk saat ini pelayanan online ditutup,” papar Sri Margana.

Pernyataan Sri Margana itu dikonfirmasi oleh Perpustakaan Nasional RI.

“Di British Library yaitu Perpustakaan Nasional Inggris di London, kami juga melakukan digitalisasi pada naskah Nusantara sejak sekitar 10 tahun yang lalu. Jumlah koleksi Nusantara ada sekitar 500 naskah,” ujar pustakawan British Library Annabel Teh Gallop, dilansir dari perpusnas.go.id, dikutip mabur.co, Minggu (25/10/2026).

Program pertama yang dilakukan pada 2013 ialah program digitalisasi semua naskah melayu. Kemudian pada 2017-2019 dilakukan program digitalisasi 75 naskah Jawa yang saat ini disimpan di British Library yang dapat dipastikan berasal dari Keraton Yogyakarta.

“Program ini didanai oleh SP Lohia, seorang warga Indonesia berketurunan India,” jelas Annabel, dikutip dari perpusnas.go.id.

Jadi bukan pemerintah Inggris yang biayai, tapi filantropis India-Indonesia, SP Lohia.

Biaya Tinggi dan Etalase Intelektual

Sri Margana menutup dengan refleksi yang jarang disuarakan: “Memang idealnya, naskah-naskah yang dirampas selama penjajahan itu dikembalikan ke pemiliknya, sedangkan naskah dalam kategori lainnya, kita tidak dapat memaksakan”.

Keberadaan naskah Nusantara di luar negeri itu tidak selamanya hal buruk, karena para pemegang naskah merawat dengan sangat baik.

Keberadaan naskah Nusantara di luar negeri itu juga menjadi etalase intelektual bangsa Indonesia di dunia. Para peneliti sejarah dan naskah dunia dapat mengenal kualitas intelektual bangsa Indonesia dari keberadaan naskah-naskah itu.

“Yang justru disayangkan adalah jika naskah itu dipulangkan kemudian menjadi koleksi eksklusif dan tidak dapat diakses bagi dunia serta aktivitas ilmu pengetahuan. Hal ini akan membuat kandungan ilmu yang ada di dalamnya mandek di dalam almari atau rak naskah. Tidak ada manfaatnya bagi pengetahuan,” demikian kalimat terakhir ini cukup menohok para pembaca semua. (Bersambung)

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar