Demo di Yogyakarta: Kisah Hero 1.560 Orang di Tiga Titik

5 Min Read
Demo KM Nol Yogya 28 Oktober 2026. (Foto: Istimewa)
4 dari 4 Series - Besok Titik Nol Yogyakarta Menolak Lupa, Asap, dan Ketidakadilan

Mabur.co – Jika di Jakarta terpusat, Yogya menyebar.

“Sejumlah elemen mahasiswa dan masyarakat sipil kemarin menggelar tiga aksi unjuk rasa di Kota Yogyakarta pada Rabu 28/10/2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Total peserta dari ketiga aksi tersebut diperkirakan mencapai 1.560 orang,” tulis KalderaNews.com, dikutip mabur.co, Kamis (29/10/2026).

“Aksi berlangsung di sejumlah titik, antara lain Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Kantor DPRD DIY, serta Kantor Gubernur DIY di Jalan Malioboro,” jam 10.00 WIB: Aliansi UMY Bergerak dan Gelora 350 orang mulai di Titik Nol.

Magnet Titik Nol

Titik Nol sudah seperti magnet mitos yang terus bergerak. Dulu patok Belanda, kini pusat sumbu filosofi. Mahasiswa UMY membawa spanduk bertuliskan berbagai tuntutan.

Seorang peserta, Rara, mahasiswi UMY Hukum 2023, bilang: “Kami di Yogya tidak hanya ikut isu Jakarta. Kami bawa isu lokal juga, Sultan Ground yang diserobot, biaya UKT UNY-UAD-UGM yang naik, dan kasus kekerasan di DIY yang tidak tuntas.”

Jam 11.30 WIB giliran di DPRD DIY, gabungan BEM se-DIY. Polda DIY menyiapkan pengamanan humanis. Kabid Humas Polda DIY Kombes Ihsan mengatakan, “Menyampaikan aspirasi adalah hak setiap warga negara, terlebih bagi rekan-rekan mahasiswa dan pemuda di momentum Hari Sumpah Pemuda ini. Kami laksanakan pelayanan secara maksimal,” dikutip ketik.com.

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan HB X, dalam keterangan keraton, mempersilakan, asal tidak merusak. Itu kalimat sakral di Yogya. Pada 1998, Sultan yang turunkan mahasiswa dari Kepatihan.

Sore, di Malioboro, seorang penjual minuman, Pak Yono, 55 tahun, yang jualan sejak 1990, bilang: “Saya lihat demo dari zaman 1998. Dulu mahasiswa kadang bakar ban di sini, sekarang bawa speaker, nyanyi, khawatir masa depan kita gimana”.

Nasional: Update Sumpah

Secara nasional, aksi ini kelanjutan dari aksi 20 Oktober 2026 di Tugu Tani, evaluasi 2 tahun Prabowo-Gibran.

BEM UI dalam rilis Instagram menyatakan: “Perjuangan ini belum selesai. Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, kami bersama seluruh elemen masyarakat kembali turun ke jalan untuk menuntut apa yang semestinya kami miliki,” dikutip liputankpk.com.

Menariknya, aksi 28 Oktober 2026 juga diikuti kampus-kampus yang biasanya dianggap apolitis: UPN Veteran Yogyakarta, Unnes Semarang, UB Malang.

Koordinator aksi nasional, Ketua BEM UI, Yatalathof Imawan, dalam orasi di Tugu Tani minggu lalu menyampaikan, “Akan kita adakan aksi nasional untuk menggugat kembali kedaulatan rakyat Indonesia.”

Di Jakarta, selain mahasiswa, ada buruh yang gelar mogok 1 jam. Di Yogya, ada petani Kulon Progo yang bawa hasil bumi, pisang, singkong, ditaruh di depan DPRD sebagai simbol: “Kami beri makan negara, negara beri kami asap.”

Seperti kata sastrawan W.S. Rendra: “Anak muda adalah pisau bambu yang runcing”. Sementara harapan masyarakat kita “ingin hidup seribu tahun lagi.” Seperti ungkapan puisi Chairil Anwar.

Mitos Sumpah Pemuda 1928 adalah bersatu. Mitos Sumpah Pemuda 2026 adalah berani tidak bersatu dengan kekuasaan.

Jam 17.00 WIB, di Bundaran HI, massa mulai membubarkan diri dengan tertib. Sampah dipungut. Di Titik Nol Yogya, mahasiswa menyapu jalan dengan sapu lidi yang dibawa dari asrama. Polisi tepuk tangan.

Kapolri Suyudi tadi pagi berpesan: ruang publik milik bersama. Mahasiswa menjawab dengan aksi: ruang publik memang milik bersama, maka dipakai bersama. 28 Oktober 2026 selesai.

Sumpah Pemuda diucapkan lagi, bukan di dalam gedung, tapi di aspal panas Jakarta dan Malioboro. Satu nusa yang terbakar hutan, satu bangsa yang tagihan UKT-nya naik, satu bahasa yang masih berani bilang: “Kami tidak takut.”

Pecahnya Kericuhan

Aksi unjuk rasa yang digelar oleh berbagai elemen masyarakat dan mahasiswa (seperti Aliansi UMY Bergerak, BEM DIY, dan Aliansi Jogja Memanggil) pada siang hingga sore hari sebenarnya berjalan dengan tertib.

Kericuhan mulai pecah setelah Magrib ketika massa utama mulai membubarkan diri. Tiba-tiba, muncul sekelompok massa tak dikenal dari sisi-sisi Jalan Malioboro yang melakukan provokasi.

Polisi memblokade titik kericuhan. (Foto: Istimewa)

Kelompok provokator tersebut melempari Gedung DPRD DIY dan petugas parkir di Jalan Perwakilan menggunakan batu, petasan, hingga kembang api.

Mereka juga sempat membakar barikade jalan. Akibat situasi yang mencekam, para pedagang di kawasan Malioboro terpaksa menutup toko mereka lebih awal.

Untuk memukul mundur massa dan mengamankan fasilitas publik, aparat kepolisian dari Polda DIY mengerahkan mobil water cannon serta gas air mata ke arah kawasan Teteg dekat Stasiun Tugu.

Polisi juga dilaporkan mengamankan satu orang yang diduga membawa senjata tajam saat kerusuhan terjadi. (Selesai).

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar