Mabur.co– Raut wajah berseri ditunjukkan Siham Hamda Zaula Mumtaza usai menyelesaikan sidang skripsi di salah satu ruang kuliah Fakultas Peternakan, UGM.
Siham merupakan mahasiswa Fakultas Peternakan angkatan 2019 yang menyandang Autis Asperger, yakni penyandang gangguan perkembangan yang membuat pengidapnya kesulitan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain.
Siham menyelesaikan skripsi berjudul “Tingkah Laku Harian Domba Ekor Tipis di Pusat Penelitian Ternak Fakultas Peternakan UGM” di hadapan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., Ir. Riyan Nugroho Aji, S.Pt., M.Sc., IPP., serta Ir. Hamdani Maulana, S.Pt., M.Sc., IPP.
Siham mengatakan, sangat lega meski masih mendapat sejumlah revisi minor dari dosen penguji. Tahapan ujian skripsi ini menjadikan dirinya sebentar lagi akan menyandang gelar sarjana peternakan.
Prodi Ilmu Peternakan dipilih karena dinilai selaras dengan kesehariannya di Jepara. Keluarganya di Jepara beternak kambing dan domba sejak 2017.
Oleh karena itu, pada penelitian akhir ia memilih meneliti domba ekor tipis selama 30 hari berturut-turut.
“Kesulitannya justru di pengolahan data menggunakan SPSS, karena itu hal baru bagi saya. Jadi hampir tiga bulan saya belajar untuk menunjang penelitian,” ungkapnya, saat ditemui mabur.co, Jumat (30/1/2026).
Siham menuturkan, ia mengenang momen saat diterima sebagai mahasiswa baru tahun 2019 lalu.
Lolos diterima di Fakultas Peternakan UGM merupakan hal membahagiakan baginya, meskipun perjalanan perkuliahan diwarnai beragam macam tantangan.
Dirinya bisa melewati masa kuliah daring dalam waktu cukup panjang, minim pertemuan tatap muka, hingga baru kembali menjalani perkuliahan luring pada semester tujuh. Berlanjut ke magang dan penulisan skripsi.
“Tantangan terbesar yang paling membekas adalah kendala komunikasi. Saat praktikum, beberapa kali memerlukan pendampingan untuk membantu proses pengarahan,” ujarnya.
Siham memaparkan, pesan mendalam kepada teman-teman penyandang disabilitas agar tetap semangat dan tidak menyerah hingga tuntas menempuh pendidikan.
Rasa kehilangan motivasi dalam proses pendidikan merupakan hal yang wajar, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti.
“Pokoknya teman-teman disabilitas jangan putus asa dan jangan gampang down,” tegasnya.
Sementara itu, dosen pembimbing skripsi, Prof. Dr. Ir. Tri Satya Mastuti Widi, S.Pt., M.P., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., menyampaikan, mahasiswa seperti Siham pada dasarnya hanya perlu dipahami pendekatan belajarnya. Siham merupakan pribadi yang tekun, serius, dan sangat detail dalam penelitian.
“Hal-hal detail yang mungkin terlewat oleh orang lain, Siham justru mampu memahami dengan baik,” ujarnya. ***



