Mabur.co- Setiap ada masyarakat etnis Tionghoa dan peranakannya di suatu tempat, pasti akan ada perayaan Tahun Baru Imlek.
Di belahan dunia mana pun, tak akan luput dengan acara Tahun Baru Cina. Yogyakarta tak terkecuali.
Ritual Imlek di Yogyakarta dipusatkan di dua kelenteng bersejarah, yakni Kelenteng Kranggan dan Kelenteng Gondomanan.
Kelenteng Gondomanan atau Fuk Ming Liao berdiri gagah di Kota Yogyakarta, letaknya persis di perempatan Gondomanan, Jalan Brigjen Katamso No 3, Gondomanan.
Ketua Kelenteng Gondomanan, Angling Wijaya alias Ang Peng Siang menuturkan, tanah kelenteng tersebut awalnya merupakan bentuk hadiah Sri Sultan Hamengku Buwono VII kepada seorang perempuan.
Kelenteng Gondomanan didirikan di atas tanah seluas 1.150 meter persegi. Pada 1907, Yap Ping memulai pembangunan kelenteng. Dia seorang mayor keturunan Tionghoa.
Kelenteng Gondomanan ini diberi nama Fuk Ling Miau. Kata “fuk” berarti berkah, kata “ling” berarti tak terhingga, dan kata “miau” berarti kuil. Dari pengartian itulah nama Fuk Ling Miau memiliki arti kuil pemberian berkah yang tiada tara.
Namun, warga Yogyakarta lebih mengenal kelenteng ini dengan nama Kelenteng Gondomanan.
“Bangunan kelenteng memiliki ornamen khas Cina dan Jawa. Umumnya ornamen bercorak Cina. Sementara corak Jawa terletak di dalam atap sumur. Kelenteng Gondomanan memiliki 14 dewa. Dewa sebagai tuan rumah kelenteng ini ialah Dewa Bumi Hok Ting Cin Sien,” ucapnya saat ditemui mabur.co, Selasa (3/2/2026).
Angling Wijaya menjelaskan, Kelenteng Gondomanan menjadi simbol toleransi beragama di Kota Yogyakarta.
Kekhasan Kelenteng Gondomanan terdapat pada keberadaan sepasang naga langit menghadap mutiara api, serta cat warna merah kuning simbol keharmonisan.
“Dua patung naga itu bertengger di bubungan atap. Kedua patung naga itu saling berhadapan. Dua naga itu masing-masing berpose membuka mulut. Sambil mengangkat ekor tegak lurus ke atas. Sembari menatap tajam pada mutiara api yang berada di tengah keduanya,” katanya. ***



