Nasib Mal Korban “Rojali” dan “Rohana”

6 Min Read
Ilustrasi. Pengunjung mall sedang melihat-lihat baju yang ter-display di keranjang mall (Foto: medcom.id)

Mabur.co – Dahulu, mal kerap digunakan sebagai lokasi nongkrong anak-anak muda maupun keluarga yang sedang menikmati liburan akhir pekan, dan seterusnya.

Mereka pun menikmati berbagai sajian yang tersedia di mal-mal tersebut, seperti berbelanja pakaian, membeli makanan dan minuman yang dijajakan di stand-stand makanan (Food Court dan sejenisnya), menonton film favorit yang baru saja rilis di bioskop XXI, dan masih banyak lagi.

Benar-benar kemasan yang lengkap untuk menemani liburan bersama keluarga, teman, pacar, selingkuhan, dan orang-orang tercinta lainnya.

Momen liburan terasa kurang lengkap, jika tidak berbelanja atau menghabiskan waktu di mal. Karena mal adalah representasi nyata dari gaya hidup modern (pada saat itu), selalu menyediakan produk-produk yang sedang hits dan viral, hingga menawarkan kenyamanan kelas atas bagi setiap pengunjung, yang tentu saja tidak akan ditemukan di tempat-tempat lainnya.

Ibaratnya, kalau sudah masuk ke dalam mal, kita bisa lupa dengan segala hiruk-pikuk dunia luar, kesibukan pekerjaan, hingga masalah di rumah. Semua itu langsung sirna ketika kita melihat berbagai fasilitas mewah yang tersedia di mal.

Namun seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin canggih, termasuk dalam hal berbelanja, semua kenyamanan mal itu mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Mereka mulai beralih untuk bertransaksi secara online untuk segala kebutuhan mereka, alih-alih mencarinya di mal seperti tahun-tahun sebelumnya.

Di masa kini, kedatangan orang ke mal hanya didasari motif untuk gaya-gayaan, supaya terlihat keren (untuk dipamerkan ke media sosial), mengisi waktu luang (gabut), melihat-lihat produk tertentu (tapi tidak dibeli), dan seterusnya.

Padahal, dalam semua entitas bisnis, pelaku usaha hanya bisa tumbuh dan bertahan hidup, jika ada pemasukan secara rutin di dalamnya. Begitu juga dengan mal.

Di situlah kemudian muncul istilah yang seolah “menyindir” para pengunjung mal masa kini, seperti “Rojali” (rombongan jarang beli), serta “Rohana” (rombongan hanya nanya).

Kedua “sindiran” itu merupakan tamparan keras bagi pelaku usaha yang berjualan di mal, yang terdampak langsung dari pola perubahan belanja masyarakat di era digital seperti saat ini. Mereka pastinya akan lebih selektif dalam memilih dan membandingkan harga satu sama lain, baik yang dijual secara offline (mal) maupun online (marketplace).

Sayangnya, harga produk secara online biasanya jauh lebih murah ketimbang offline (untuk produk yang sama persis), sehingga masyarakat pun sudah pasti akan memilih berbelanja secara online, yang menawarkan harga lebih murah, serta bisa dipesan dari rumah melalui ponsel pribadinya.

Sementara ketika berbelanja di mall, selain lebih mahal, masyarakat harus pergi jauh menuju ke mall yang dituju, membayar tarif parkir, mencari stand yang menjual produk yang diinginkan, dan seterusnya.

Dari situ saja sudah terlihat, bahwa orang-orang akan lebih memilih berbelanja di marketplace (online), ketimbang berbelanja di mal.

Mal pun harus beradaptasi sedemikian rupa, untuk tetap bisa bertahan, serta menghasilkan pundi-pundi Rupiah, agar bisa terus bertahan hidup, di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu seperti saat ini.

Dilansir dari laman Medcom.id, Rabu (27/5/2026), berikut adalah beberapa langkah adaptasi yang dilakukan pihak mal dalam beberapa waktu terakhir, untuk dapat menarik minat pengunjung baru setiap harinya, sekaligus memaksimalkan transaksi dalam lingkungan mal, agar tetap menghasilkan cuan demi bertahan hidup.

1. Memaksimalkan Sektor Kuliner

A busy indoor food court with many people seated at colorful tables, eating and chatting under bright ceiling lights.
Ilustrasi. Food court. (Foto: rri.co.id)

Meskipun toko ritel pakaian atau barang tersier kian sepi, namun untuk sektor restoran, kafe, dan area food court justru mengalami peningkatan omzet, di tengah fenomena “Rojali” dan “Rohana” tadi.

Pengunjung biasanya tetap datang ke Mal untuk bersantai atau makan bersama.

Mengingat aktivitas makan dan minum adalah aktivitas fisik, yakni memasukkan makanan/minuman secara langsung ke dalam mulut, maka hal itu jelas tidak bisa disubstitusi oleh teknologi secanggih apapun. Kecuali untuk membeli produknya saja.

2. Pergeseran Fungsi Mal

A man hands a large orange plush toy to a smiling woman inside a bright arcade claw machine area, with stuffed animals visible inside the machine.
Ilustrasi. Pengunjung menikmati wahana permainan di Timezone. (Foto: tiket.com)

Dengan hadirnya dua fenomena “rohana” dan “rojali” tersebut, pusat perbelanjaan mulai beralih fungsi menjadi destinasi gaya hidup (lifestyle hub), dengan fokus memperbanyak fasilitas hiburan, ruang terbuka, dan area bermain untuk menarik pengunjung datang.

Lagi-lagi, semua ini tidak dapat ditemukan di marketplace atau perbelanjaan versi digital.

3. Optimalisasi Belanja Daring (Omnichannel)

Vendor wearing a mask at a colorful drink stall, assisting a customer who holds a QR menu flyer.
Ilustrasi. Pengunjung mal melakukan transaksi online melalui QRIS. (Foto: detik.net.id)

Untuk menyiasati pengunjung yang hanya melihat-lihat di toko fisik (showrooming), peritel juga ikut mengintegrasikan layanan belanja online dan offline secara bersamaan, agar proses transaksi tetap terjadi.

4. Lokasi Acara Komunitas

Penampilan grup musik RAN di mall, yang mampu menarik pengunjung baru. (Foto: baraknews.com)

Saat ini mal juga semakin sering mengadakan kegiatan-kegiatan tematik, pameran, dan acara komunitas lainnya, untuk meningkatkan jumlah kunjungan secara langsung. Dengan harapan setelah itu mereka akan berbelanja, makan, nonton bioskop, dan lain-lain.

***

Meskipun mal sudah mulai ditinggalkan untuk urusan bertransaksi, daya tariknya sebagai lokasi yang mewah dan megah, tetap tidak bisa digantikan dengan apapun, termasuk oleh kecanggihan bertransaksi secara online.

Maka wajar apabila pihak mal terus mencari alternatif baru, agar usaha mereka tetap berkembang, dan terus menjadi tempat singgah masyarakat dari berbagai usia, untuk bisa menikmati waktu senggang dengan cara yang tidak akan ditemukan di tempat lain. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment