Sejak Era Jenderal Sudirman, TBC Belum Tuntas Sampai Kini

Mabur.co – Penyakit Tuberkulosis atau TBC sudah begitu lama muncul di Indonesia. Catatan tertua soal penyakit TBC di Indonesia, bahkan bisa ditemukan pada salah satu relief Candi Borobudur pada abad ke-8 Masehi.

Di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda pun penyakit TBC  juga banyak ditemukan. Sehingga membuat pemerintah kolonial Belanda sampai membentuk belasan tempat khusus perawatan pasien TBC pada 1908 hingga 1939.

Salah satu yang paling diingat tentang dampak mengerikan TBC, adalah kondisi Panglima Besar TNI Jenderal Sudirman.

Ia diceritakan memimpin perang gerilya dalam kondisi sakit parah dengan hanya memiliki 1 paru-paru yang berfungsi di tubuhnya.  Jenderal Sudirman bahkan dinyatakan meninggal di usia muda yakni tahun 1950 karena penyakit TBC.

Meski sudah berlangsung begitu lama, penyakit TBC di Indonesia masih belum bisa tertangani secara tuntas hingga saat ini.

Per tahun 2026 ini, Indonesia bahkan menempati urutan kedua sebagai negara dengan jumlah pasien TBC tertinggi di dunia. Indonesia berada satu tingkat di bawah India. 

Meski begitu Wakil Menteri Kesehatan RI, Benjamin Paulus Octavianus, mengungkapkan, Indonesia saat ini merupakan negara peringkat pertama dengan jumlah kasus TBC tertinggi di dunia.

Hal itu dihitung berdasarkan angka rasio kasus TBC per jumlah penduduk yang dinilai lebih tinggi dibandingkan India. 

Jika angka rasio kasus TBC di India mencapai 190 kasus per 100 ribu penduduk maka angka rasio kasus TBC di Indonesia mencapai 386 kasus per 100 ribu penduduk. Hampir dua kali lipat dibanding India.

Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus saat kunjungan kerja di Kulon Progo Foto JH Kusmargana

“Kalau penduduk kita sebanyak India, Indonesia sudah jadi nomor satu (negara dengan kasus TBC terbanyak) di dunia,” kata Benjamin saat melakukan kunjungan kerja di wilayah Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Kamis (29/1/2026) kemarin. 

Benjamin menyebut, tingginya kasus TBC di Indonesia ini terjadi karena penanganannya belum bisa dilakukan secara tuntas dari masa ke masa. 

Salah satu penyebabnya adalah karena penyakit TBC berkembang secara perlahan. Bakteri penyebab TBC bisa bertahan dalam kondisi tertentu hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya. 

Hal itu semakin dipersulit dengan tidak adanya gejala berat yang dialami atau dirasakan pasien TBC saat awal terkena penyakit ini. Sehingga membuat penyakit TBC kerap diabaikan masyarakat. 

“TB itu terkena Januari sakitnya baru April. Keluhannya hampir tidak ada. Jadi orang tidak peduli. Beda dengan COVID-19. Hari ini kena besok lusa langsung sesak nafas. Jadi orang takut,” katanya.

Selain itu diungkapkan penanganan TBC juga harus dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Minimal 2 bulan untuk sembuh dan 6 bulan untuk sembuh total. 

Guna memberantas kasus TBC di Indonesia, pemerintah sendiri saat ini fokus melakukan upaya percepatan penanganan TBC melalui  Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC). 

Yakni dengan melibatkan 31 kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Desa, Kementerian Perumahan, TNI, dan Polri. 

Petugas kesehatan melakukan pengecekan pasien TBC Foto JH Kusmargana

Penanganan TBC ini dilakukan tidak hanya melakukan pengobatan pada pasien yang telah terdeteksi saja. Namun juga mengatasi berbagai faktor lain yang menyertainya. 

Di antaranya seperti perbaikan kondisi rumah yang kurang layak, hingga pelacakan terhadap penderita TBC yang belum terdeteksi, karena berpotensi menularkan dan menyebarkannya. 

Di wilayah Kabupaten Kulon Progo sendiri hingga saat ini tercatat ada sebanyak 429 orang terdeteksi mengidap penyakit TBC.

Namun diperkirakan jumlah itu baru separuh dari total keseluruhan orang penderita TBC yang mencapai 800 orang. Artinya masih ada sekitar 400 orang penderita TBC yang belum terdeteksi. 

Guna mencegah penyebaran TBC semakin meluas, pemerintah sebagaimana dikatakan Benjamin mengaku akan menggencarkan pelacakan atau tracking secara besar-besaran ke masyarakat.

Caranya dengan memeriksa setiap kontak pasien TBC. Baik itu anggota keluarga yang tinggal serumah maupun rekan kerja pasien TBC yang telah terdeteksi. 

“Jadi kita akan datangi rumah-rumah setiap pasien. Untuk mengecek orang-orang di sekitarnya. Mereka akan kita periksa. Gratis. Negara yang tanggung,” katanya.

Meski begitu, upaya Penanganan TBC ini bukan tanpa kendala. Selain faktor keterbatasan anggaran dan tenaga kesehatan yang ada, masih melekatnya stigma negatif terhadap penderita TBC juga menjadi tantangan tersendiri. 

Pasalnya hal itu membuat sebagian masyarakat enggan untuk diperiksa karena takut dikucilkan atau dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *