Festival Sastra Laku 2026, Ribuan Warga Yogya Berebut Gunungan Buku

4 Min Read
Crowded outdoor festival with people reaching toward a tall prize column wrapped in plastic under blue sky and tents behind them.
Ribuan warga tumpah ruah berebut gunungan yang berisi buku-buku sastra. Dibagikan secara gratis di Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Pasar Sastra 2026 mulai digelar di Kota Yogyakarta. Agenda tersebut berlangsung pada 23–30 Agustus dengan mengusung tema “LAKU”.

Festival berlangsung dipusatkan di Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta. Dalam pembukaan acara itu, ribuan warga tumpah ruah berebut gunungan yang berisi buku-buku sastra yang dibagikan secara gratis.

Gunungan Buku

Tradisi merayah gunungan buku menjadi salah satu momentum paling ditunggu. Ribuan eksemplar buku dibagikan secara cuma-cuma dalam bentuk gunungan, menyerupai tradisi budaya Yogyakarta seperti gunungan grebeg yang kerap digelar Keraton Yogyakarta.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos., M.M, menuturkan, tradisi gunungan buku merupakan tradisi yang dilaksanakan setiap ada festival sastra yang diinisiasi oleh IKAPI.

Gunungan buku bertujuan untuk mengingatkan bahwa pengetahuan merupakan sumber kehidupan. Jadi, kalau bicara pangan menghidupi raga, maka sebenarnya bicara buku menghidupi pikiran dan jiwa.

“Buku itu merawat ingatan, kemudian membuka cakrawala, mempertemukan kita dengan pikiran orang lain. Bahkan dengan generasi yang belum pernah kita jumpai,” ucapnya, Minggu (23/8/2026).

Black exhibition wall covered with colorful papers and notes clipped in place; visitors walk through a bright gallery space in the background.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, S.Sos., M.M, saat melihat-lihat pameran pasar sastra di Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Yetti menuturkan, peradaban tidak hanya dibangun oleh yang dilakukan hari ini, tetapi juga oleh pengetahuan yang dibaca, direnungkan, dan tentu saja diwariskan.

“Yogyakarta memiliki perjalanan panjang sebagai ruang tumbuh pengetahuan dan kebudayaan. Di Kota Yogyakarta ini, tradisi dan gagasan terus bertemu. Kemudian juga pendidikan tumbuh, bersama penulis, seniman, akademisi, penerbit, komunitas serta masyarakat. Terus menciptakan percakapan. Dari perjumpaan itulah, kebudayaan menemukan jalan,” ucapnya.

Menurut Yetti, dalam festival sastra tersebut, menghadirkan 3.000 judul buku dan 15.000 eksemplar buku secara keseluruhan.

Tidak hanya buku sastra, tetapi juga buku umum dan buku anak. Pasar ini diharapkan menjadi ruang yang ramah bagi siapa saja. Anak-anak, pelajar, orang tua, keluarga, mahasiswa, pembaca, maupun masyarakat umum.

Pasar buku bukan sekadar tempat transaksi semata, karena tempat-tempat untuk buku juga menemukan pembaca dan pengetahuan pun menemukan jalan.

”Saya berharap dengan buku yang dibawa pulang tidak berhenti menjadi benda di rak. Tapi harus dibaca. Dari buku lahir pembacaan, dari pembacaan lahir percakapan, dari percakapan tumbuh gagasan dan dari gagasan kehidupan bergerak menjadi lebih baik,” katanya.

Memang, Festival Sastra Yogyakarta 2026 mengambil tema laku. Laku adalah perjalanan, tindakan, sekaligus cara menjalani kehidupan.

Membaca sebagai Kebiasaan

Sastra pun tidak cukup hanya ditulis, sastra perlu dibaca, dipikirkan, dibicarakan, dan tentu saja dihidupkan dalam keseharian. Karena itu, membaca adalah sebuah laku sesuai dengan tema festival sastra tahun 2026.

“Melalui gunungan buku yang kita hadirkan bersama, kita ingin menjadikan membaca bukan sekadar kegiatan. Melainkan kebiasaan, bukan sekadar mencari pengetahuan, melainkan jalan untuk memahami kehidupan,” katanya.

Menurut Yetti pula, kebudayaan tidak tumbuh oleh satu tangan. Ia tumbuh dari banyak orang yang bersedia menjaga, menghidupkan, dan mewariskan.

“Semoga gunungan buku hari ini, menjadi doa agar pengetahuan terus tumbuh, sastra terus tumbuh, sastra terus hidup, dan budaya membaca semakin mengakar di Yogyakarta. Mari membaca, mari bertukar gagasan, mari membawa pulang buku, dan mari menjadikan pengetahuan sebagai laku untuk merawat kehidupan.

Sebab ketika sebuah buku dibaca, pengetahuan menyala, ketika pengetahuan juga dibagikan, kebudayaan bergerak. Dan ketika kebudayaan itu terus dijalankan, masa depan menemukan jalannya,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar