Jogja Book Fair 2026 Jadi Bukti Buku Fisik Masih Diminati

3 Min Read
A bookstore or book fair scene with two men browsing books at a long table of stacked titles while a woman in a striped hijab looks through items in the foreground.
Pengunjung Jogja Book Fair 2026 sedang melihat-lihat koleksi buku yang dipamerkan, sebelum nantinya dibeli (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Pelaksanaan event Jogja Book Fair 2026 yang berlangsung di kantor Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, kompleks Grhtama Pustaka, Banguntapan, Bantul, resmi berakhir pada hari Selasa ini (8/9/2026).

Di tengah kekhawatiran mengenai keberlangsungan buku fisik, yang kini mulai ditinggalkan akibat hadirnya buku digital (e-book) dan semacamnya, perhelatan Jogja Book Fair 2026 kali ini setidaknya menjadi bukti, bahwa kekhawatiran itu tidak sepenuhnya tepat.

Menurut Koordinator Pendukung Pameran Jogja Book Fair 2026, Retno Putri, perhelatan Jogja Book Fair kali ini mampu menyedot perhatian lebih dari 800 pengunjung setiap harinya, dengan jumlah transaksi mencapai lebih dari 200 eksemplar buku per hari.

“Untuk antusiasme masyarakat dalam Jogja Book Fair ini bisa dibilang cukup baik. Dan kebetulan banyak juga koleksi buku yang ada di sini, jadinya banyak pengunjung yang mencari buku sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, Biasanya kalau hari terakhir kayak gini baru rame. karena beberapa penerbit biasanya obral buku-bukunya dalam jumlah besar,” ucap Retno Putri, saat ditemui di sela-sela pameran sebelum sesi penutupan, Selasa (8/9/2026).

Memperluas Akses Bacaan

Stacks of language dictionaries and phrasebooks on a market table, including Indonesian-English and Arabic/Korean guides.
Display buku-buku Kamus terjemahan di Jogja Book Fair 2026, yang populer menjadi buruan para pembeli dari generasi ke generasi (Foto: Azka Qintory)

Di saat yang sama, Koordinator Bazaar, Anastasia Arsiwi Anggita Dewi, mengaku bahwa bacaan buku fisik seperti yang tersedia di Jogja Book Fair tetap dibutuhkan oleh masyarakat luas. Mengingat buku fisik adalah

“Dengan adanya pameran (seperti Jogja Book Fair), akses akan lebih terjangkau. Selain itu, beberapa distributor dan penerbit itu akan bergabung menjadi satu di satu tempat khusus. Maka otomatis pembaca dan pembeli akan lebih mudah untuk mencari buku-buku yang diinginkan. Jadi dia tidak perlu lagi berkeliling ke berbagai toko buku untuk mencari buku-buku sejenis, karena semuanya sudah tersedia dalam satu pintu akses,” ucap Ana, panggilan akrabnya, di tempat yang sama.

Menurut Ana, buku fisik tetap memiliki keunggulan tersendiri ketimbang buku digital. Seperti mudah dikoleksi, wujudnya bisa dipegang dan dirasakan, serta jauh lebih nyaman dibaca.

Terlebih buku digital yang dibaca melalui ponsel, komputer, atau tablet, umumnya akan membuat mata lebih cepat lelah, sehingga sensasi membaca tidak akan sama seperti saat membaca buku fisik. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar