Mabur.co – Kementerian Kebudayaan berencana merevitalisasi sejumlah situs budaya di Maluku Utara. Langkah ini dilakukan untuk melindungi peninggalan sejarah sekaligus mengembangkan sarana edukasi bagi masyarakat.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengatakan revitalisasi akan menyasar sejumlah situs yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya, termasuk peninggalan sejarah di Ternate dan Tidore.
“Kementerian Kebudayaan akan melakukan upaya revitalisasi terhadap sejumlah situs yang telah menjadi cagar budaya, termasuk di Ternate dan Tidore,” kata Fadli dikutip situs resmi Kementerian Kebudayaan, Minggu (23/8/2026).
Menurut Fadli, Maluku Utara memiliki kekayaan sejarah yang besar. Salah satunya jejak Alfred Wallace, naturalis dan penjelajah yang pernah melakukan penelitian di Ternate.
Sarana Edukasi Sejarah
Jejak Wallace tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sarana edukasi sejarah dan ilmu pengetahuan.
Selain jejak Wallace, Maluku Utara memiliki sejumlah bangunan bersejarah seperti Benteng Oranje dan Benteng Kalamata. Wilayah ini juga menyimpan warisan Kesultanan Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan.
Maluku Utara juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah perdagangan rempah-rempah Nusantara. Wilayah ini sejak berabad-abad lalu menjadi salah satu pusat penting perdagangan cengkih dan rempah.
Kekayaan tersebut semakin lengkap dengan filosofi Moloku Kie Raha, yang merujuk pada perserikatan empat kesultanan atau empat gunung di Maluku.
Beragam adat, tradisi, dan bahasa yang masih hidup di tengah masyarakat menjadi bagian penting dari warisan budaya Maluku Utara.
Fadli mengajak seluruh pihak, termasuk Pengurus Himpunan Keluarga Maluku Utara (HIKMU) periode 2026–2031, untuk ikut memperkuat pelestarian dan pemajuan kebudayaan daerah.
Menurut dia, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Masyarakat adat, komunitas budaya, organisasi masyarakat, generasi muda, serta berbagai pemangku kepentingan juga memiliki peran penting.
“Pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat adat, komunitas budaya, organisasi masyarakat, generasi muda, serta berbagai pemangku kepentingan memiliki peran penting dalam memastikan kekayaan budaya Indonesia terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.
