Konservasi Alam dan Budaya, Meriahkan Pelatihan dan Sertifikasi BNSP Hildikpari V

Basis utama desa wisata adalah keberadaan alam dan budaya. Kelestarian keduanya menjadi ukuran bagaimana program diinisasi.

Jangan sampai upaya pengembangan desa wisata justru merusak alam dan menghilangkan sakralitas kebudayaan yang ada.

Demikian benang merah pemaparan Wahjudi Djaja saat menjadi narasumber dalam Pelatihan dan Sertifikasi BNSP yang digelar di Kampus STIPRAM, Selasa (3/2/2026).

Pelatihan difasilitasi LSP Pariwisata IndoNusa dan diikuti oleh para dosen dari perguruan tinggi di DIY dan Jawa Tengah yang tergabung dalam Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia (Hildikpari) DPW V.

Pelatihan dimulai Senin (2/2/2026) dan diakhiri Rabu (4/2/2026) dengan asesmen terhadap para peserta.

Turut hadir dan memberikan sambutan dalam pembukaan pelatihan, Direktur LSP Pariwisata IndoNusa Hazwan Iskandar Jaya, Ketua STIPRAM Dr Suhendroyono SH MPar CHE CHSP, dan Ketua STIEPAR API Yogyakarta Susilo Budi Winarno SH MH selaku Ketua DPW V Hildikpari.

Dalam paparannya, Wahjudi Djaja, mengelaborasi pentingnya pendekatan multidimensional dalam memberdayakan potensi masyarakat.

“Masyarakat itu kompleks dan potensinya beragam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menggunakan pendekatan multidimensional agar seluruh potensi bisa teridentifikasi dan rekomendasi yang kita sampaikan lebih holistik. Di atas itu semua, local wisdom harus dijadikan pijakan agar pengembangan desa wisata tak kehilangan ruh dan karakter,” urai Direktur Pusat Kebudayaan Saptohoedojo ini.

Menjaga alam dan melestarikan budaya, imbuh Sekjen Yayasan Taman Sesaji Nusantara ini, memang tak mudah.

“Kita berhadapan dengan transformasi sosial masyarakat dimana aspek local wisdom mulai dilupakan. Di sisi lain, fenomena deforestasi tidak saja merusak alam tetapi juga menegasikan keberadaan masyarakat adat. Di sanalah tantangan kaum akademisi. Pilihan kita adalah menggerakkan kesadaran masyarakat di desa wisata dimana kita menginisiasi program,” tandasnya.

Pada hari pertama (Senin, 2/2/2026), Pradiyanto Datu Jatmiko, selaku narasumber membahas materi tentang mapping mitra, strategi pemasaran, dan platform digital.

Suasana pelatihan sangat dinamis dan hidup karena banyak peserta memberikan perspektif sesuai dengan kebijakan masing-masing kampus dan pengalaman para dosen. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *