Melatih Kepekaan Lingkungan dengan Menulis Cerpen

3 Min Read
Salwa Aulia Az-zahra (kiri) menceritakan proses penulisan buku antologi cerpen berjudul "Pencuri Bulan Suci" dalam acara Selasa Sastra di Kelingan Garden & Cafe (Foto: Azka Qintory)

Mabur.co – Belajar tentang kebudayaan bisa dilakukan di mana saja, termasuk dari hal-hal yang tidak terduga sekalipun.

Ketidaktahuan generasi muda terhadap budaya di daerahnya sendiri, tentunya menjadi satu fenomena miris di zaman sekarang, di mana mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan sesuatu yang sifatnya kekinian dan canggih, tanpa pernah memiliki ketertarikan sedikitpun terhadap warisan budaya leluhur.

Setidaknya itulah yang dirasakan seorang Salwa Aulia Az-zahra, salah satu alumnus program Daulat Sastra Jogja (DSJ) Temu Karya Sastra (TKS) pada tahun 2022 lalu.

Dalam buku antologi cerpen terbarunya yang berjudul Pencuri Bulan Suci, Awa, panggilan akrabnya, akhirnya merasa terpanggil untuk mempelajari kebudayaan yang ada di Yogyakarta, sekaligus melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitar, yang selama ini cukup jarang dilakukan oleh anak-anak muda di luar sana.

“Saat saya mengikuti kegiatan TKS (Temu Karya Sastra) tahun 2022 di Sanggar Anak Alam (Salam), di mana di sekelilingnya terdiri dari persawahan, saya melihat ada yang menjalankan tradisi Wiwitan. Sebagai orang Jogja, saya ternyata juga nggak tahu apa itu Wiwitan, padahal itu tradisi asal Jogja sendiri. Saya pun berpikir ‘Oh saya tidak sepeka ini kah terhadap lingkungan saya sendiri’, seperti itu.

Di sana (tradisi Wiwitan yang berlangsung di sekitar Salam) kami bahkan diperbolehkan untuk ikut serta dalam perayaan tradisi Wiwitan tersebut. Kami juga diperbolehkan mencoba hidangan (sesajen) yang ada di sana. Itu menjadi sesuatu yang begitu melekat di hati saya sampai sekarang. Karena saya merasa ‘wah saya orang Jogja, tapi kok saya sendiri nggak tahu tentang tradisi-tradisi seperti ini (Wiwitan), begitu,” ungkap Awa, dalam sesi bedah buku antologi cerpen Pencuri Bulan Suci, dalam kegiatan Selasa Sastra edisi “Janji di Bulan Juni”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Kritik terhadap Diri Sendiri

Sejak saat itu, proses penulisan cerpen ini turut menjadi pembelajaran tersendiri bagi Awa, sekaligus sebagai self-critic (kritik terhadap diri sendiri), agar ke depannya ia bisa lebih mendalami budaya dan tradisi yang ada di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, sebagai daerah asalnya sendiri.

“Akhirnya itu jadi semacam kritik untuk diri saya sendiri, Dan akhirnya hadirlah cerpen ini pada hari ini di Kelingan Garden & Cafe,” tambah Awa.

Sesi bedah buku antologi cerpen Pencuri Bulan Suci dari Awa ini, merupakan salah satu rangkaian dalam kegiatan Selasa Sastra edisi Juni 2026 dengan tema “Janji di Bulan Juni”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Selasa (2/6/2026).

Selain sesi bedah buku, ada pula buku antologi cerpen lainnya yang ikut dibedah, dengan judul Sinden Terakhir, karya Siti Maha Dana.

Tidak hanya itu, Selasa Sastra kali ini juha menghadirkan penampilan sastra spesial dari beberapa Sastrawan ternama, sebut saja Tedi Kusyairi, Mirna Radilla, Sunawi, Fathia Jayanti, Nur Budi, dan masih banyak lagi. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment