Mabur.co — Kebudayaan tidak semestinya berhenti pada panggung pertunjukan, pelestarian tradisi, atau ruang ekspresi seni.
Di Kulon Progo, kebudayaan didorong untuk memiliki dampak yang lebih luas, termasuk ikut menjawab persoalan kemiskinan dan menggerakkan perekonomian masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo, Dr. Joko Mursito, mengatakan, kebudayaan memiliki cakupan yang luas. Karena itu, pengembangan kebudayaan tidak cukup hanya dengan memberikan fasilitas kepada pelaku seni.
Menurutnya, dalam situasi keterbatasan anggaran dan banyaknya kebutuhan masyarakat, pemerintah harus memiliki strategi untuk menentukan program yang menjadi prioritas.
“Semenjak saya di Dinas Kebudayaan, saya memprioritaskan kesenian-kesenian yang berada di daerah miskin. Salah satunya dengan program Sigro Mentas,” kata Joko, Jumat (24/7/2026).
Melalui kebijakan tersebut, Dinas Kebudayaan melakukan pendampingan ke desa-desa dan kalurahan. Tujuannya bukan hanya agar kelompok kesenian dapat terus berkegiatan, tetapi juga memiliki kemandirian dan mampu berkembang secara ekonomi.
Kesenian yang Juga Entaskan Kemiskinan
Joko menyebut, pendekatan tersebut sebagai upaya agar kesenian bisa “mentas” dalam arti yang lebih luas. Bukan sekadar tampil di atas panggung, tetapi juga ikut mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.
“Ini tidak sekadar dilatih terus dibayar. Ketika kami turun ke masyarakat, kami menggerakkan semua sektor, termasuk sektor kerajinan, UMKM, dan lainnya,” ujarnya.
Menurut Joko, kegiatan kebudayaan harus dirancang agar mampu menciptakan rantai ekonomi. Ketika sebuah kesenian dipentaskan, maka kegiatan tersebut juga harus memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk terlibat.
Mulai dari produk kerajinan, makanan, suvenir, hingga berbagai produk UMKM dapat diintegrasikan dalam kegiatan kebudayaan.
Ia mencontohkan skema pertunjukan dengan tiket kelas umum dan VIP. Penonton umum dapat membeli tiket seharga Rp10.000, sedangkan tiket VIP dibanderol Rp25.000.
Selisih harga tiket VIP tersebut kemudian dapat dikembalikan kepada UMKM melalui pembelian produk lokal yang dijadikan suvenir bagi penonton.
Dengan pola semacam itu, pertunjukan seni tidak hanya menghasilkan pendapatan bagi penyelenggara atau pelaku seni, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi bagi masyarakat.
“Ketika kebudayaan itu bergerak, harus mampu membawa gerbong ekonomi,” kata Joko.
Ia menilai, pada masa kini, aktivitas kebudayaan yang tidak memiliki dampak ekonomi perlu dipikirkan kembali. Menurutnya, ekspresi seni yang hanya ditujukan untuk kepuasan pribadi masih dapat dilakukan dalam konteks tertentu, seperti di lingkungan akademik.
Namun, ketika kebudayaan hadir di tengah masyarakat dan menggunakan sumber daya publik, maka manfaatnya harus dapat dirasakan lebih luas.
“Sekarang aktivitas kebudayaan tanpa dampak ekonomi itu sama saja dengan orang mencari kepuasan sendiri,” ujarnya.
Karena itu, Dinas Kebudayaan Kulon Progo berupaya menghubungkan kegiatan seni dengan sektor-sektor lain. Setiap pertunjukan diharapkan dapat membuka peluang bagi pelaku UMKM, pedagang, perajin, hingga masyarakat sekitar.
Joko mencontohkan kegiatan seni tradisional yang digelar di Taman Budaya Kulon Progo. Setiap pertunjukan mampu menarik aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk para pedagang.
Bertanya Langsung kepada Pedagang
Dinas Kebudayaan bahkan berupaya memantau dampak ekonomi dari setiap kegiatan tersebut dengan menanyakan langsung kepada pedagang mengenai pendapatan mereka.
“Kami bertanya, Bapak-Ibu hari ini pendapatannya berapa. Itu untuk menghitung seberapa besar dampaknya bagi perekonomian kita,” katanya.
Bagi Joko, keberhasilan sebuah kegiatan kebudayaan tidak hanya diukur dari jumlah penonton atau meriahnya pertunjukan.
Lebih dari itu, kebudayaan harus mampu menciptakan manfaat berantai bagi masyarakat.
Kesenian yang tumbuh di daerah miskin, menurut dia, harus mendapatkan pendampingan agar dapat berkembang secara mandiri. Ketika kesenian itu tampil, maka produk-produk lokal juga ikut bergerak. Dari sana, kegiatan budaya diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru.
Gagasan tersebut menempatkan kebudayaan bukan sebagai sektor yang berdiri sendiri, melainkan sebagai penggerak berbagai sektor lain.
Dengan pendekatan itu, kebudayaan di Kulon Progo diharapkan tidak hanya menjaga identitas dan tradisi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu jalan untuk mengurangi kemiskinan dan memperkuat ekonomi lokal.
