Menyatukan Perbedaan, Ansori dan En Roel Gelar Pameran Bersama

Mabur.co– Pusat Kebudayaan Saptohoedojo (PKSH) menggelar Pameran Lukis “Gothak Gathuk Pethuk” karya Ansori Mozaik dan En Roel di Gallery Saptohoedojo, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Pekan Saptohoedojo ini merupakan aktualisasi tahunan untuk menghidupkan kembali pemikiran, karya, dan keteladanan seniman dunia Saptohoedojo bagi generasi penerus bangsa Indonesia.

Salah seorang peserta pameran, perupa Ansori Mozaik, menyatakan, ide awal diadakan Pameran Lukis “Gothak Gathuk Pethuk” ini karena kebersamaan persahabatan dengan perupa En Roel.

“Kita berdua sering menggelar pameran bersama, sering saling berkunjung. Jadi dari konsisten pertemuan, akhirnya mempunyai kesepakatan untuk mengadakan satu pameran. Kebetulan momen yang dipilih adalah 101 Tahun Saptohoedojo,” ucapnya saat ditemui mabur.co di Art Gallery Saptohoedojo, Minggu (1/2/2026) siang.

Ansori berharap, mudah-mudahan pameran ini tidak hanya sekadar sampai di sini saja.

“Selain menggelar Pameran Lukis “Gothak Gathuk Pethuk”, juga ada launching Yayasan Pusat Kebudayaan Saptohoedojo. Karena kita menghargai pelaku budaya yang sudah sekian tahun berlevel nasional bahkan internasional. Komunitas Saptohoedojo memang layak untuk kami berdayakan lagi,” katanya.

Ansori menuturkan, dalam pameran tersebut, memamerkan karya keramik mozaik. Karena itu merupakan ciri spesifik karyanya. Hasil karyanya semua merupakan mozaik.

“Dalam karya keramik mozaik saya sering menampilkan tokoh-tokoh nasional. Karena saya menghargai tokoh-tokoh tersebut. Bagaimana pun tokoh-tokoh tersebut adalah pimpinan-pimpinan bangsa sebagai penentu kebijakan nasional. Tidak hanya tokoh nasional saja yang saya buat. Tokoh kontra saya juga buat sebagai penyeimbang,” katanya.

Ansori memaparkan juga, dirinya bersama En Roel memiliki karakter visual yang berbeda. Perbedaan dalam satu kebersamaan itulah yang justru menyatukan.

“Mudah-mudahan pameran ini bisa menjadi inspirasi buat teman-teman seni rupa. Kita bisa pameran berdua, sendiri, atau bersama-sama,” katanya.

Di sisi lain, En Roel menyatakan, dalam pameran tersebut, ia menampilkan lukisan garis yang memiliki filosofi bahwa kehidupan manusia panjang dan berliku.

Oleh sebab itu ia mencoba agar setiap lukisan yang berupa garis tidak putus. Mulai dari ujung ke ujung.

“Setiap saya pameran memakai bahasa sendiri-sendiri. Misalnya saat saya pameran di Indonesia, saya memakai bahasa Indonesia. Saat saya pameran di Jenewa, Swiss, saya menggunakan bahasa Prancis,” katanya.

Seniman lukis En Roel dalam Pameran Lukis Gothak Gathuk Pethuk memamerkan lukisan garis yang memiliki filosofi tersendiri Foto Setiaky A Kusuma

En Roel menambahkan, setiap garis yang ditulis itu melambangkan kehidupan yang banyak sekali cobaan. Tidak selalu mulus namun berliku-liku.

“Saya berharap pada generasi sekarang, teruslah belajar mengasah keterampilan. Mengasah bakat seni. Paling penting kemauan. Karena ketika tidak ada kemauan akan berhenti. Kemauan kalau diasah terus Insya Allah bisa berlanjut,” pungkasnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *