Mabur.co- Ribuan anak asal Indonesia yang diadopsi ke Belanda pada periode 1970 hingga 1980 kini berupaya mendapatkan kembali status kewarganegaraan Indonesia setelah menemukan bukti praktik adopsi ilegal.
Sebagaimana dilansir dari Detikcom, para penyintas yang kini telah dewasa mengungkap adanya pemalsuan dokumen kependudukan dan pemutusan hubungan paksa dengan keluarga asli mereka di Indonesia.
Indra Jaya Kelana, salah satu penyintas yang lahir di Bandung pada 1982, baru mengetahui status adopsinya saat berusia 10 tahun.
Indra Jaya Kelana mengatakan, identitas aslinya sempat dihapus seluruhnya oleh sistem adopsi di Belanda yang melibatkan pihak ketiga sebagai perantara administratif fiktif.
“Yang sebenarnya terjadi adalah identitas saya dihapus seluruhnya,” ungkapnya dilansir BBC News Indonesia, Sabtu (2/5/2026).
Indra menjelaskan, seiring bertambahnya usia membuat dirinya menyadari yang dialami dulu kala balita bukan adopsi, melainkan penculikan.
“Saya berupaya meraih kembali apa yang telah dihilangkan dari diri saya yang saya anggap seharusnya melekat kepada saya, yakni status warga Indonesia,” ucapnya.
Indra mengatakan, pertama kali ketika umurnya masih 10 tahun. Ayah angkatnya yang berasal dari Belanda bernama Armene Manuel Oudkerk Pool, memberitahu bahwa dirinya bukan anak kandungnya.
“Orang tuanya yang asli berada di negara yang berjarak belasan ribu kilometer dari Belanda yakni di Indonesia,” ucapnya.
Indra mengatakan, begitu memperoleh informasi tersebut, dunia kecilnya yang senantiasa dibayangkan mendekati ideal seketika lenyap tanpa jejak. Bangunan yang dia lihat dipenuhi kehangatan justru berisikan tumpukan kebohongan yang ditutupi kain gelap.
“Saya tak pernah paham apa alasan ayah angkat saya mengeluarkan pengakuan itu,” katanya.
Indra mengatakan pula, setelah mendengar pengakuan ayah angkatnya, ia mengunci diri di dalam kamar.
“Saya merasa sangat takut karena apa yang selama ini saya rasakan ternyata benar,” kenangnya.
Indra mengatakan, di Belanda, ia tinggal bersama ayah angkatnya. Dalam banyak kesempatan, ibu dan ayah angkatnya turut pula mengasuhnya.
“Di mata saya, mereka orang tua saya. Saya memanggilnya dengan ayah dan ibu,” ucapnya.
Indra mengatakan lagi, ikatan yang terjalin antara mereka tidak berjalan alamiah sebagaimana hubungan orangtua serta anak pada umumnya.
Ia telah merasakannya, tapi tak mampu mendeskripsikannya secara rinci.
“Dalam benak saya, sosok yang kerap dijumpai di Belanda, yang mengisi hari-hari saya, bukanlah ayah maupun ibu yang sebenarnya,” ucapnya.
Indra menyimpan rapat-rapat di dalam pikiran, berusaha melanjutkan masa kecil sampai akhirnya berita serupa ombak besar datang sekaligus menggulungnya.
Pengakuan ayah angkatnya menghadirkan awan pekat yang mengikuti Indra ke mana pun dia melangkah. Di luar, Indra sering kali murung dan bergumul dengan bermacam kecemasan, kekecewaan, hingga yang paling menonjol kemarahan.
“Semua orang seperti tahu bahwa saya adalah anak adopsi, sementara saya sendiri tidak. Lalu, siapa yang bisa saya percaya?” ucapnya.
Indra mulai berpikir siapa sebetulnya orang-orang di sekitarnya itu?
“Siapa saya sesungguhnya?” gugat Indra.
Indra tak dapat menepis segala yang muncul di kepalanya. Persepsi publik Belanda terhadap anak adopsi amat negatif.
Mereka yang diadopsi tak jarang diartikan anak kotor yang orang tuanya tidak menginginkan mereka.
“Saya khawatir diri saya bakal bernasib sama,” pungkasnya. ***



