Wayang Cakruk, Cara Warga Yogyakarta Diskusikan Aneka Persoalan di Tengah Masyarakat 

4 Min Read
Pertunjukan wayang cakruk. (Foto: Dok Kalurahan Pendowoharjo)

Mabur.co – Yogyakarta punya cara unik untuk menyampaikan kritik sekaligus membahas berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. 

Berbagai dinamika dan persoalan sehari-hari itu tidak dibahas dalam forum-forum resmi seperti rapat tingkat desa maupun penyuluhan pemerintah. 

Melainkan lewat pertunjukan kesenian wayang yang biasa disebut wayang cakruk. 

Seperti kesenian wayang pada umumnya, pertunjukan ini digelar dengan menampilkan seorang dalang yang membawakan sebuah lakon atau cerita.

Kisah Kehidupan Sehari-hari

Namun, lakon yang ditampilkan bukan kisah Ramayana atau Mahabharata. Melainkan kehidupan sehari-hari masyarakat yang sedang berkumpul dan bercengkerama di cakruk atau gardu ronda.

Lewat kesenian wayang cakruk inilah berbagai persoalan yang biasa muncul di tengah masyarakat mulai dari masalah keluarga hingga persoalan sosial kemasyarakatan akan dibahas.

Biasa digelar di balai desa, dengan perlengkapan yang lebih sederhana, wayang cakruk juga lebih banyak disajikan dengan candaan serta guyonan santai layaknya di sebuah gardu ronda.

Tokoh-tokoh yang dimainkan pun bukan sosok yang biasa dimainkan dalam pertunjukan wayang kulit. Melainkan tokoh rekaan dengan karakter atau profesi yang ada di tengah masyarakat.

Karena itu, wayang cakruk tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Pertunjukan ini juga dapat digunakan sebagai media penyuluhan dan penyampaian kritik sosial.

Pemerintah DIY melalui Dinas Sosial bahkan rutin menggunakan wayang cakruk sebagai media komunikasi karena pesan yang disampaikan dinilai lebih mudah diterima semua kalangan.

Media Penyuluhan Sosial

Dilansir sejumlah situs resmi pemerintahan kalurahan baik di Bantul, Gunungkidul, hingga Kota Yogyakarta, Jumat (25/9/2026), tak jarang wayang cakruk dimanfaatkan sebagai media penyuluhan sosial.

Mulai dari tema pencegahan dan penanganan kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT, persoalan kenakalan remaja hingga gangguan ketertiban dan keamanan atau kamtibmas.

Pertunjukan menghadirkan dalang Ki Sumarno Purbo Carito bersama sinden dan pengrawit. Selama sekitar 120 menit, persoalan KDRT disampaikan melalui cerita, humor, dan sindiran yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Lurah Pendowoharjo, Hilmi Hakimudin, bahkan menyebut wayang cakruk sebagai media penyuluhan sosial yang efektif karena mampu menyentuh semua lapisan masyarakat.

“Ini (wayang cakruk) merupakan kegiatan yang menarik untuk memberikan edukasi kepada masyarakat dengan cara yang tidak sepaneng atau tegang, penuh humor, rada satir, tapi mengena di masyarakat. Karena sesuai dengan realitas yang ada di masyarakat,” paparnya dikutip website resmi Pemerintah Kalurahan Pendowoharjo. 

Menurut dia, dengan pendekatan budaya dan hiburan penuh humor dalam kemasan wayang cakruk, warga akan dapat menerima pesan tanpa merasa sedang dinasihati secara langsung.

“Dengan pertunjukan wayang cakruk ini kita berusaha untuk mengedukasi masyarakat, namun mereka tidak merasa digurui,” imbuhnya.

Sementara itu berdasarkan penelitian yang dilakukan Galang Prastowo bersama Afendy Widayat, Sri Harti Widyastuti, dan Purwadi dari Universitas Negeri Yogyakarta menemukan bahwa wayang cakruk mampu memuat berbagai bentuk kritik sosial.

Penelitian tersebut menganalisis cerita yang disampaikan dalang maupun bintang tamu dalam pementasan wayang cakruk. Hasilnya menunjukkan adanya kritik terhadap berbagai persoalan, mulai dari kehidupan keluarga dan masyarakat hingga persoalan di lingkungan pemerintahan.

Beberapa persoalan yang muncul antara lain hubungan antar-tetangga, kenakalan remaja, KDRT, penyalahgunaan wewenang, kolusi dan korupsi, hingga kejahatan narkoba, dan lain-lain.

Dengan karakter tersebut, wayang cakruk menjadi semacam cermin kehidupan masyarakat. Persoalan yang sebenarnya terjadi di sekitar warga dikemas menjadi cerita sehingga pesan sosial dapat disampaikan melalui cara yang lebih santai.

Humor dan sindiran menjadi bagian penting dari pertunjukan. Penonton bisa tertawa ketika melihat karakter atau persoalan yang terasa familiar, tetapi pada saat bersamaan mereka juga diajak berpikir kritis sekaligus menyadari masalah yang sedang dibicarakan.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar