Mabur.co – Tanggal 19 April ini, federasi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) genap berusia 96 tahun.
Dalam usia yang hampir menginjak satu abad tersebut, PSSI kembali berusaha merefleksikan perjalanan panjangnya, baik itu prestasi maupun kegagalan, yang sudah terekam dari generasi ke generasi.
Kini di era kepemimpinan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, PSSI sudah dibawa menuju next level, alias peningkatan kualitas, yang sebelumnya sangat sulit dicapai.
Namun demikian, ada satu impian next level berikutnya, yang masih belum kesampaian hingga saat ini.
Impian tersebut adalah lolos ke putaran final Piala Dunia.
Perlahan-lahan impian tersebut mulai diwujudkan oleh mantan presiden Inter Milan itu. Salah satunya dengan merekrut banyak “antek-antek asing”, alias pemain diaspora keturunan Indonesia, yang berasal dari Belanda maupun belahan negara Eropa lainnya.
Tujuannya jelas, yaitu mempercepat impian Indonesia untuk tampil di ajang sebesar Piala Dunia.
Tujuan itu awalnya hampir menjadi kenyataan, saat timnas Indonesia berhasil melaju hingga ke putaran 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.
Namun sayang, pergantian pelatih di tengah jalan dari Shin Tae-Yong ke Patrick Kluivert, akhirnya harus membuyarkan impian tersebut.
Bisa dikatakan, kehadiran “antek-antek asing” dalam wujud pemain naturalisasi telah mampu menaikkan level timnas Indonesia. Dari yang dulunya hanya sanggup bersaing di Asia Tenggara (itu pun masih sering kalah dengan Thailand dan Vietnam) kini sudah mampu bersaing di kawasan Asia. Meskipun hasil akhirnya masih belum sesuai harapan.
Tidak hanya dari segi pemain yang tampil di lapangan, PSSI juga kini mulai serius menjalin kerjasama dengan beberapa “antek asing” lainnya, sebut saja dari Belanda, Jepang, hingga yang terbaru dari Prancis.
Orang-orang manajemen terbaik dari negara-negara tersebut, direkrut satu per satu ke Indonesia, untuk membantu menaikkan standar persepakbolaan nasional, untuk bisa bersaing di level dunia.
Dengan masa persiapan (menuju ke Piala Dunia 2030) yang jauh lebih panjang, tentunya berbagai persiapan ini diharapkan akan membuahkan hasil terbaik, yakni kelolosan timnas Indonesia ke putaran final Piala Dunia 2030.
Apalagi di tahun tersebut, PSSI akan genap berusia satu abad (100 tahun).
Tentunya kelolosan Indonesia ke Piala Dunia 2030 akan terasa indah (jika itu benar-benar terjadi), layaknya kado ulang tahun satu abad bagi PSSI.
Namun sebelum melangkah jauh ke sana, persepakbolaan Indonesia harus terus berbenah mulai dari sekarang. Agar ke depannya tidak perlu lagi mengganti pelatih di tengah jalan, yang ujung-ujungnya malah mengubah semuanya kembali dari nol, alias mengulang lagi dari awal.
Dan untuk mewujudkan “kado 100 tahun PSSI” tersebut, peran dari segenap “antek-antek asing” sangatlah dibutuhkan oleh negeri ini.
Sehingga masyarakat lokal kita bisa belajar, bahwa lolos ke Piala Dunia (dan bersaing di level dunia) itu butuh proses yang panjang, terstruktur, dan juga berliku.
Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini, termasuk dengan mengganti pelatih di tengah jalan.
Jadi tidak perlu “alergi” atau anti dengan “antek-antek asing”. Karena merekalah yang membawa timnas kita bisa sampai di tahap sejauh ini.
Dan mudah-mudahan saja, berkat “antek-antek asing” pulalah, Indonesia akan benar-benar mewujudkan impian lolos ke Piala Dunia 2030, kalau bisa secepat mungkin (seperti yang dilakukan Jepang atau Korea Selatan).
Sehingga tidak perlu lagi berlama-lama sampai ronde ke-4, kemudian juga menghadapi negara-negara yang saat ini berperang melawan tuan rumah Piala Dunia tahun ini. (*)



