Gempa Jogja 27 Mei 2006: 20 Tahun Kemudian

4 Min Read
Pemandangan wilayah Jogja dan sekitarnya pasca gempa tektonik berdurasi 57 detik yang terjadi di DIY dan Jawa Tengah pada Sabtu, 27 Mei 2006 dengan skala 5,9 Skala Richter. Meski sudah 20 tahun berlalu, trauma dari peristiwa ini masih terus membekas, dan menjadi pelajaran penting bagi dunia internasional (Foto: samoaglobalnews.com)

Mabur.co – Pada hari Sabtu, 27 Mei 2006, sekira pukul 05.54 pagi, tiba-tiba terjadi guncangan besar selama 57 detik, yang seketika meluluhlantakkan berbagai bangunan dan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Itulah awal mula terjadinya gempa bumi tektonik berkekuatan 5,9 Skala Richter (SR) yang mengguncang DIY dan Jawa Tengah. Gempa itu menjadi salah satu bencana paling mematikan dalam sejarah peradaban modern di Indonesia.

Pagi yang cerah itu tiba-tiba menjadi sangat mencekam, ditambah dengan susulan gempa-gempa berikutnya, yang masih saja mengguncang bumi selatan Jawa selama beberapa jam, bahkan hingga malam hari.

Peristiwa itu langsung mengubah wajah Yogyakarta, yang langsung dipenuhi puing-puing berserakan di mana-mana. Banyak orang yang menangis, kehilangan harta benda, sanak saudara, hingga tempat tinggal mereka, sehingga harus mengungsi ke tempat-tempat lain yang dianggap lebih aman.

Menurut laporan dari laman VOA Indonesia, Rabu (27/5/2026), gempa ini menyebabkan 5.700 orang meninggal dunia, lebih dari 20.000 orang mengalami luka-luka, lebih dari 390.000 rumah roboh atau rusak berat, lebih dari 1,5 juta orang kehilangan tempat tinggal akibat bangunan rumah mereka yang seketika rata dengan tanah, serta kerugian yang ditaksir mencapai Rp 30 triliun.

Semua itu terjadi hanya dalam hitungan 57 detik.

Segala cara sudah dilakukan, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, maupun dari bantuan tenaga asing, untuk bisa memulihkan Yogyakarta kembali sebagai kota istimewa sebagaimana mestinya, dan kembali menjalani hidup dengan normal seperti sedia kala.

Rumah “Teletubbies” Sebagai Pengungsian Warga Terdampak

Cluster of white dome-shaped houses with wooden doors in a landscaped village, a person walks along a paved road in the foreground under a blue sky.
Rumah Dome (Rumah Teletubbies), lokasi pengungsian warga di Prambanan, Sleman, yang kini jadi Desa Wisata (Foto: voaindonesia.com)

Adapun salah satu cara yang dilakukan untuk memulihkan kehidupan masyarakat Jogja akibat gempa adalah dengan mendirikan rumah berbentuk bulat yang disebut “rumah dome”.

Rumah ini berlokasi di Dusun New Nglepen, Prambanan, Sleman, DIY, yang turut didanai oleh NGO Yayasan nirlaba internasional bernama Domes for The World Foundation bersama donatur tunggal Ali Alabar, yang juga pemilik perusahaan properti Emaar Properties Dubai, pada tahun 2007 silam.

Saat itu, rumah ini sempat dijadikan lokasi pengungsian bagi warga terdampak gempa, yang masih kesulitan mencari tempat tinggal baru, setelah kediaman sebelumnya hancur lebur akibat rata dengan tanah.

Desainnya yang unik kemudian mengingatkan publik terhadap serial anak asal Inggris, Teletubbies, yang di dalamnya juga memiliki rumah dengan bentuk serupa. dan sempat menjadi hits di awal 2000-an.

Rumah dome ini didesain tahan gempa dan api, sehingga aman untuk ditempati masyarakat, meskipun terjadi bencana.

Kini, rumah yang satu ini juga turut dijadikan salah satu destinasi wisata unik di Yogyakarta.

20 Tahun Gempa Jogja, Pelajaran bagi Dunia

Meskipun durasi gempa Jogja tidak sampai satu menit, tapi dampak yang ditimbulkan sudah mampu mengubah wajah Yogyakarta dalam sekejap, dan menjadi perhatian serius bagi dunia internasional, bahkan sampai hari ini.

Hal ini tentu saja menjadi pengingat bagi semua orang, termasuk di belahan dunia lainnya, agar selalu waspada dan mempersiapkan diri, terhadap segala ancaman gempa atau bencana lainnya, yang bisa saja terjadi di masa depan.

Masyarakat pun juga perlu diberi pemahaman secara menyeluruh, baik terkait mitigasi, penanggulangan, serta bagaimana menyelamatkan diri dan barang-barang berharga yang ada di rumah, dan sebagainya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga telah berulang kali mengingatkan, bahwa gempa bumi adalah bencana yang terjadi berulang. Sehingga pemahaman masyarakat terkait bencana yang satu ini juga harus terus dijaga, dari generasi ke generasi.

Meski sudah berlalu selama 20 tahun, namun memori dan trauma dari peristiwa itu masih terus membekas sampai hari ini.

Hal itu menjadi bukti nyata bahwa 57 detik gempa yang terjadi 20 tahun lalu, efeknya masih terasa hingga puluhan tahun lamanya, dan menjadi salah satu catatan sejarah kelam yang pernah terjadi di kota istimewa seperti Yogyakarta. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment