Mengapa Hari Raya Iduladha Identik dengan Penyembelihan Sapi dan Kambing?

2 Min Read
Group of men rescuing a cow trapped in a hole, using ropes while spectators watch nearby.
Ilustrasi. Penyembelihan hewan kurban (Foto: madaninews.id)

Mabur.co – Dalam setiap pelaksanaan hari raya Iduladha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah, umat muslim umumnya akan merayakannya dengan melakukan penyembelihan kewan kurban, yakni Sapi dan Kambing.

Daging yang diperoleh dari kedua hewan tersebut, selanjutnya akan dibagikan kepada masyarakat sekitar, untuk disantap bersama keluarga dan sanak saudara di rumah, dan seterusnya.

Lalu pertanyaannya, mengapa hari raya iduladha atau kurban begitu identik dengan penyembelihan dua hewan ini? Apakah ada kesempatan bagi hewan lainnya untuk ikut disembelih, dalam perayaan hari raya kurban?

Dilansir dari laman Amartha.com, Senin (26/5/2026), berikut adalah penjelasan selengkapnya, terkait Sapi dan Kambing sebagai hewan yang disembelih pada perayaan iduladha.

1. Simbol Ketaatan

Dalam sejarahnya, peristiwa kurban adalah bentuk penghormatan atas ujian keimanan Nabi Ibrahim AS. Beliau mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail AS.

Berkat keikhlasan keduanya, Allah SWT kemudian mengganti Ismail dengan seekor domba.

2. Ketentuan Syariat (Fikih)

Berdasarkan tuntunan agama, hewan yang sah dan diperbolehkan untuk dikurbankan haruslah dari jenis Al-An’am atau hewan ternak. Hewan yang paling umum dan memenuhi syarat tersebut meliputi kambing, domba, sapi, dan unta.

3. Kriteria Usia dan Kesehatan

Untuk bisa menjadi salah satu hewan yang disembelih, Sapi yang dikurbankan harus berusia minimal dua tahun. Sedangkan kambing atau domba minimal berusia satu tahun.

Selain itu, hewan tersebut harus dalam kondisi sehat dan tidak cacat.

***

Di Indonesia sendiri, aktivitas berkurban atau menyembelih Sapi dan Kambing telah menjadi tradisi di kalangan masyarakat sejak ratusan tahun lamanya. Di mana kedua hewan tersebut turut disembelih oleh Jagal (sebutan untuk orang yang menyembelih hewan kurban), yang biasanya merupakan bapak-bapak kompleks atau Ustadz.

Seorang Jagal harus mampu melakukan penyembelihan dengan satu kali sayatan secara cepat tanpa mengangkat pisau sebelum proses selesai.

Selain itu, pastikan agar tiga saluran di leher hewan tersebut segera terputus, yang meliputi saluran napas (hulqum), saluran makanan (mari’), dan dua pembuluh darah utama (wadajain).

Setelah itu, barulah hewan kurban tersebut bisa dikelupas kulitnya, untuk kemudian diambil dagingnya, dan dibagikan kepada masyarakat sekitar. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment