Kisah Inspiratif Generasi Muda, Sulap Usaha Berbasis Peternakan

4 Min Read
Pengunjung sedang melihat hewan ternak kambing di kandang Prabu Farm, Dusun Sanggrahan, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. (Foto: Istimewa)

Mabur.co– Peternakan bukan lagi soal kandang kotor dan bau tak sedap.

Di tangan generasi muda seperti Rahmat Gilang  Ramadan, warga Dusun Sanggrahan, Kalasan, Sleman, lulusan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada yang masih berusia 24 tahun, meskipun masih muda ia sudah mampu memimpin usaha berbasis wisata edukasi peternakan dengan pendekatan yang sangat profesional.

Rahmat mengatakan, konsep utama di Prabu Farm menyajikan edukasi seputar peternakan kambing dan domba yang dibagi dalam tiga pilar utama di antaranya kambing perah, kambing kontes (peranakan etawa), domba lokal (baik untuk seni maupun kebutuhan kurban).

“Dari ketiga segmen itu, Prabu Farm berusaha membuktikan bahwa dengan pengelolaan yang modern dan berbasis ilmu, peternakan bisa bersih, estetis, dan bahkan menjadi tempat wisata edukatif yang menyenangkan,” katanya.

Rahmat Gilang Ramadan, warga Dusun Sanggrahan, Kalasan, Sleman sedang memberi pakan ternaknya. (Foto: ISTIMEWA)



Rahmat mengatakan, salah satu keunikan Prabu Farm terletak pada sistem kandangnya. Tidak seperti peternakan tradisional, kandang di sini dirancang dengan pendekatan individu dan sistem pembuangan kotoran yang tersembunyi.

Kotoran ternak dialirkan ke lubang sedalam 2 meter sehingga tidak terlihat secara langsung dan tidak menimbulkan bau menyengat.

“Pembersihan kandang dilakukan rutin setiap 2–3 bulan dan kotoran diangkut menggunakan truk besar yang masuk melalui lorong khusus,” katanya.

Rahmat mengatakan pula, dalam dunia peternakan, performa ternak sangat bergantung pada dua hal yakni genetik dan lingkungan.

Menurut Rahmat, genetik adalah faktor paling krusial. Oleh karena itu, Prabu Farm sangat memperhatikan kualitas pejantan dan indukan.

Contohnya, untuk kambing perah mereka menggunakan ras Saanen, sedangkan untuk kambing kontes menggunakan PE (Peranakan Etawa) kualitas juara yang sudah sering memenangi kompetisi.

Di sini domba lokal bisa berbobot hingga 95 kg dan mampu bersaing dengan ras impor seperti Dorper, Texel, atau Awassi.

“Namun, hal ini masih menjadi pekerjaan rumah besar karena kualitas genetik yang baik belum merata di masyarakat,” katanya.

Setiap Ternak Dirawat Sesuai Kebutuhan

Rahmat mengatakan lagi, setiap jenis ternak di Prabu Farm dirawat sesuai kebutuhan. Misalnya kambing kontes mendapatkan perawatan paling intensif karena mengikuti standar estetika tinggi.

Mereka dimandikan dua kali sehari dan dirawat dengan produk premium agar tampil maksimal. Kambing perah dikelola dengan prinsip good farming practices, cukup dengan menjaga kebersihan dan stres minimal.

“Semua ternak dibersihkan secara rutin dan didesinfeksi seminggu sekali untuk menjaga biosecurity dan kenyamanan hewan,” katanya.

Rahmat mengatakan lagi, pakan ternak di Prabu Farm disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing segmen.

Serat berasal dari hijauan seperti indigovera, kaliandra, turi, serta berbagai jenis rumput seperti pakchong dan odot.

“Untuk menunjang produksi, konsentrat dengan kandungan protein tinggi (di atas 20% untuk kambing perah) juga digunakan,” ucapnya.

Rahmat menuturkan, salah satu tantangan dalam memasarkan susu kambing adalah edukasi pasar. Banyak orang masih takut dengan aroma prengus atau amis. Namun, di Prabu Farm, semua proses dilakukan dengan standar kebersihan tinggi.

“Pemerahan dilakukan dua kali sehari menggunakan mesin, dan hasilnya digunakan untuk berbagai produk olahan seperti susu pasteurisasi, es krim kambing, kefir dan puding,” katanya.

Rahmat mengatakan, saat musim Iduladha, Prabu Farm menyiapkan ratusan hewan dengan kisaran harga mulai dari Rp2 juta untuk bobot 23–24 kg.

Untuk kategori jumbo dan premium, tersedia domba dengan bobot 90–100 kg dengan harga mencapai lebih dari Rp9 juta.

“Selain itu juga menyediakan bibit kambing perah dan kontes, serta domba kontes berkualitas tinggi,” katanya.

Rahmat mengatakan, memiliki harapan besar agar Prabu Farm menjadi inspirasi bagi generasi muda dan pelaku peternakan lainnya.

“Saya ingin peternakan tak hanya menjadi tempat produksi ternak, tapi juga sebagai ladang belajar, bertukar ide, dan tumbuh bersama,” katanya.

Ayudha, pengunjung mengatakan, di Prabu Farm ini sangat bersih kandangnya. Sangat bersih, tidak bau.

“Pengelola kandang juga ramah dan memberikan edukasi mengenai hewan ternak yang ada,” ujarnya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Leave a Comment