Mabur.co – Pidato Presiden Prabowo Subianto kembali menjadi sorotan publik.
Ketika memberikan sambutan (pidato) dalam kegiatan Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Ketua DPRD Seluruh Indonesia di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/4/2026), Prabowo sempat “mengusir” awak media atau wartawan yang sedang berada di lokasi dan melakukan tugas peliputan.
“Eh ini ada wartawan (yang melakukan tugas peliputan) nggak di sini? Ada wartawan? Sudah keluar (dari ruangan presiden berpidato)? Sudah keluar ya? Itu kamera-kamera punya kita sendiri? Iya? Maaf ya wartawan, karena ini ada masalah di dunia sekarang ini, yang kita tidak paham,” ungkap Presiden Prabowo saat hendak “mengusir” dari ruangannya saat berpidato, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Tribun MedanTV, Sabtu (18/4/2026).
Seperti yang selama ini menjadi kebiasaan Presiden Prabowo, pidato-pidatonya kerap memicu perdebatan di kalangan publik.
Terutama melalui jargon nyeleneh-nya, yang dianggap sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang kepala negara.
Lalu ketika Prabowo berusaha “mengusir” wartawan dari ruangannya berpidato, dengan segala kontroversi yang selalu mengiringinya selama ini, tentunya hal ini kembali menimbulkan pertanyaan yang semakin serius.
Ada masalah apa sebenarnya, antara Presiden Prabowo dengan wartawan? Yang merupakan representasi dari suara publik?
Ketika publik begitu banyak mencemooh gaya kepemimpinan Prabowo, yang sangat kental dengan “cita rasa orde baru” ala mertuanya, Soeharto, tentunya sikap-sikap yang ditunjukannya semakin menguatkan dugaan publik, bahwa memang terjadi sesuatu yang “tidak beres” di dalam tubuh pemerintahan saat ini.
Sampai-sampai publik tidak diizinkan menyaksikannya secara luas dan terbuka.
Apalagi dengan narasi seperti “karena ini ada masalah di dunia sekarang ini, yang kita tidak paham”.
Statement semacam itu semakin memperkuat dugaan sesuatu yang memang ingin ditutup-tutupi oleh pemerintah, agar tidak diketahui oleh rakyatnya sendiri.
Di sisi lain, ini bukan kali pertama Prabowo berusaha “mengusir” wartawan atau awak media dari ruangannya saat melakukan pidato atau sidang.
Pada Agustus 2025 lalu, Prabowo diketahui pernah dua kali “mengusir” wartawan. Momen pertama terjadi dalam sidang kabinet dalam rangka pembahasan RAPBN 2026 di Istana Kepresidenan.
Sementara momen kedua terjadi beberapa hari setelahnya, saat hendak memberikan sambutan secara tertutup di Bandung dalam acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri.
Setidaknya momen “pengusiran” terhadap wartawan dari lokasi Prabowo melakukan pidato atau sambutan, mengindikasikan satu hal penting, bahwa Prabowo memang tidak begitu “bersahabat” dengan wartawan, alias publiknya sendiri.
Padahal setiap pertanyaan dari awak media adalah representasi nyata dari banyaknya pertanyaan publik terhadap kinerja pemerintah, termasuk yang bisa dibaca sendiri di media sosial.
Dan sekali lagi, statement semacam itu jelas memberi sinyal yang begitu kuat, bahwa Presiden Prabowo hendak “meng-orde baru-kan” Indonesia (sekali lagi) dalam versi yang lebih modern.
Sehingga ia masih bisa meneruskan era kejayaan mertuanya, yang berkuasa lebih dari tiga dekade. (*)



