Belajar dari Mobilitas Manusia di Pasar Tradisional Sejak Dini Hari - Mabur.co

Belajar dari Mobilitas Manusia di Pasar Tradisional Sejak Dini Hari

Mabur.co – Jika selama ini Anda (atau ibu Anda) mulai mendatangi pasar tradisional pada pagi hari, seperti pukul enam atau tujuh pagi, maka itu sesuatu yang masih tergolong “biasa”.

Karena memang aktivitas berbelanja di pasar umumnya berlangsung mulai pagi hingga siang hari.

Namun bagi para pedagang pasar, mereka sudah harus berada di lokasi pasar, jauh sebelum orang-orang seperti Anda (konsumen) datang untuk berbelanja keperluan sehari-hari. Bahkan sejak jam dini hari.

Ya, sejak dini hari mereka sudah mulai mempersiapkan barang dagangan mereka, yang nantinya akan dijual kepada konsumen seperti Anda.

Selain itu, aktivitas para pedagang di jam dini hari adalah menata dagangan agar menarik calon pembeli, seperti mengikat sayuran, memotong daging, atau menyusun buah-buahan.

Ada pula proses tawar-menawar yang dilakukan para pedagang kepada pedagang grosir, yang biasanya menjadi tempat kulakan itu berasal.

Dan tentu saja, setiap dagangan yang telah dibeli harus disusun dengan rapi dan bersih, agar pembeli bersedia mampir dan melakukan transaksi.

Singkatnya, jam-jam dini hari adalah waktu sibuk bagi para pedagang grosir maupun pedagang eceran pasar, sebagai momen penerimaan barang dan distribusi awal, sebelum nantinya dijual kepada konsumen pada pagi hari. 

Menghidupkan Interaksi Sosial yang Hangat

Meskipun jam-jam dini hari (sekitar 01.00 – 05.00) merupakan periode yang sangat intens bagi para pedagang pasar, namun hal itu tetap menjadi salah satu tradisi penting, yang patut untuk dilestarikan.

Tanpa disadari, proses transaksi dan tawar-menawar yang terjadi di kalangan pedagang pasar tradisional, merupakan aktivitas sosial yang mampu mempererat hubungan batin antarsesama manusia.

Selain itu, kegiatan intens yang terjadi pada jam dini hari ini juga mencerminkan kearifan lokal, saling toleransi, dan sifat gotong royong seluruh warga masyarakat, yang tergolong masih cukup tinggi untuk ukuran manusia modern, yang cenderung lebih individualistik.

Pada akhirnya, pasar tradisional bukan hanya sekadar tempat transaksi barang-barang kebutuhan sehari-hari, maupun tempat bertemunya penjual dan pembeli.

Pasar tradisional juga mampu menghidupkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dalam suasana yang hangat, penuh keakraban.

Terbukti, hanya di pasar tradisionallah Anda bisa menawar harga dengan begitu “kejam”, bahkan cenderung tidak manusiawi.

Tapi kadang-kadang masih diloloskan saja oleh para pedagang. Karena mereka sadar, nominal keuntungan bukanlah segalanya.

Banyak aspek sosial lainnya yang dianggap lebih penting bagi para pedagang pasar, daripada sekadar mencari keuntungan materiil.

Di antaranya interaksi sosial, ajang silaturahmi, menerapkan prinsip “berbagi” dan “bersyukur” (atas segala macam nikmat yang telah diberikan), serta nilai ibadah yang terkandung dalam setiap proses tawar-menawar tersebut.

Semua keunggulan tersebut, tentunya tidak akan pernah ditemukan di pasar modern. Karena bagi pasar modern, yang penting hanyalah cuan, cuan, dan cuan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *