Mabur.co – Gunung Anak Krakatau ternyata belum berhenti tumbuh. Setelah sebagian besar tubuhnya runtuh ke laut pada Desember 2018, gunung api di Selat Sunda itu perlahan membangun kembali tubuhnya melalui aktivitas erupsi dan pembentukan lava baru.
Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama sejumlah lembaga dalam dan luar negeri bahkan menunjukkan proses pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau tersebut masih berlangsung hingga saat ini.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani mengatakan, kondisi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api merupakan sistem yang terus berubah. Perjalanannya tidak hanya berupa erupsi, tetapi juga mencakup fase pertumbuhan, keruntuhan dan pembangunan kembali.
“Sejarah erupsi Anak Krakatau menunjukkan bahwa gunung api ini berkembang melalui siklus pertumbuhan, erupsi, keruntuhan, dan pembangunan kembali. Setelah kolaps pada 2018, morfologi dan gaya erupsi berubah secara drastis, lalu diikuti fase pertumbuhan kembali melalui erupsi dan pembentukan lava baru,” jelas Dini dilansir laman resmi BRIN, Kamis (24/9/2026).
Tumbuh 330 Meter dalam 91 tahun
Salah satu fakta menarik tentang Anak Krakatau adalah tubuh gunung tersebut sebenarnya relatif muda. Gunung ini mulai muncul pada 1927, sebagai bagian dari proses pembangunan kembali sistem gunung api setelah Krakatau runtuh akibat letusan besar 1883. Itu artinya Gunung Anak Krakatau baru berusia kurang dari 100 tahun.
Pada awal kemunculannya, aktivitas erupsi masih berlangsung di bawah atau sangat dekat dengan permukaan laut. Interaksi magma dengan air laut menghasilkan erupsi Surtseyan yang melontarkan uap, abu dan material vulkanik.
Material tersebut kemudian terus menumpuk hingga daratan Anak Krakatau muncul secara permanen di atas permukaan laut pada Agustus 1930.
Pertumbuhan berlangsung selama puluhan tahun. Aktivitas erupsi kemudian semakin menghasilkan material padat dan lava hingga tubuh Anak Krakatau mencapai ketinggian sekitar 330 meter sebelum runtuh pada 2018.
Sedang Membangun Tubuh Baru
Pada 22 Desember 2018, sektor barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut dengan volume material sekitar 0,116 kilometer kubik.
Keruntuhan tersebut membuat ketinggian puncak Anak Krakatau berubah drastis, dari sekitar 330 meter menjadi 120 meter, sekaligus memicu tsunami di Selat Sunda.
Namun, keruntuhan itu bukan akhir pertumbuhan Anak Krakatau. Sejak 2019, gunung ini memasuki fase pembangunan kembali. Aktivitas yang semula banyak dipengaruhi interaksi magma dan air kemudian berkembang menjadi erupsi Strombolian, lava fountain hingga aliran lava.
Material baru secara bertahap menumpuk dan membentuk kerucut baru di dalam kawah pascakeruntuhan.
“Setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali. Aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju Strombolian, lava fountain, dan aliran lava, yang secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps,” tegas Dini.
Alami Pertumbuhan yang Tidak Merata
Fakta lain yang jarang diketahui adalah Anak Krakatau tidak tumbuh secara simetris. Gunung ini berdiri di tepi kaldera bawah laut dengan kemiringan dasar laut yang berbeda di setiap sisinya.
Sektor barat daya berada di atas lereng kaldera yang lebih curam, sedangkan bagian timur laut bertumpu pada dasar laut yang relatif lebih dangkal. Kondisi itu membuat karakter kestabilan masing-masing sisi tubuh gunung berbeda.
Hasil penelitian menyebut material penyusun Anak Krakatau ternyata juga tidak sama. Pada fase awal, interaksi magma dengan air laut menghasilkan endapan tuf yang relatif ringan dan berpori. Setelah sekitar 1960, aktivitas yang lebih dominan menghasilkan lava yang lebih padat.
Lava yang lebih berat kemudian menumpuk di atas material yang lebih ringan. Ditambah posisi sektor barat daya di atas lereng yang curam, kondisi tersebut ikut memengaruhi kestabilan tubuh gunung.
Menurut Dini, rangkaian perubahan tersebut menunjukkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu sama sepanjang waktu.
“Catatan erupsi Anak Krakatau memperlihatkan bahwa perilaku gunung api tidak selalu tetap, tetapi dapat berubah mengikuti perkembangan tubuh gunung, sistem magma, dan kondisi lingkungannya,” pungkasnya.
