Mabur.co – Tanggal 14 April ini diperingati sebagai hari tertawa internasional (International Moment of Laughter Day). Momen ini menegaskan pentingnya tertawa dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi kesehatan fisik dan mental.
Hari momen tawa internasional pertama kali dicetuskan oleh Izzy Gesell pada 1997, untuk mengajak orang-orang melepaskan stres dan meningkatkan suasana hati, salah satunya melalui tertawa.
Dalam konteks kenegaraan hari ini, rasa-rasanya kita juga perlu menertawakan pemerintah Republik Indonesia. Karena mereka seringkali “ngelucu” dan membuat rakyatnya tertawa terpingkal-pingkal setiap harinya.
Bagaimana tidak, sejak Prabowo-Gibran memimpin Indonesia pada akhir 2024 lalu, keduanya tak henti-hentinya mengeluarkan kebijakan, membuat statement, hingga melakukan aksi atau gestur yang lebih tepat disebut sebagai “pelawak”, ketimbang sebagai kepala pemerintahan negara.
Mulai dari istilah “presiden gemoy”, “omon-omon”, “antek-antek asing”, “presiden sawit”, serta predikat “Wapres ngantuk” serta “Wapres ter-AI” yang sering disematkan kepada Gibran, membuat publik serasa tidak pernah kehabisan kata, untuk mendeskripsikan rezim pemerintahan yang satu ini.
Dalam konteks tertawa sebagai pelepas stres dan meningkatkan suasana hati (mood), tentu saja apa yang dilakukan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran sampai sejauh ini sangat bermanfaat bagi kesehatan rakyatnya.
Meskipun sudah pasti tidak ada niatan dari pemerintahan Prabowo-Gibran untuk melakukan gimmick ngelucu dan lain sebagainya. Namun entah mengapa, setiap aksi mereka di atas panggung selalu saja mengundang tawa bagi orang-orang maupun netizen yang menyaksikannya di media sosial.
Ketika kepemimpinan mereka selama 1,5 tahun ini dianggap publik tidak sesuai ekspektasi, tapi justru lebih banyak mengundang gelak tawa bagi masyarakat, maka bisa jadi, rezim pemerintahan yang satu ini lebih berbakat menjadi “pelawak”, ketimbang memimpin Indonesia dengan segala kompleksitasnya.
Tapi ingat, jangan sampai Anda terang-terangan menyebut pemerintahan Prabowo-Gibran lebih cocok jadi pelawak ketimbang kepala pemerintahan.
Karena jika Anda sampai keceplosan melakukannya, bisa-bisa Anda akan ditertibkan oleh para “pelawak” ini, bahkan sampai diproses secara hukum.
Namanya juga “pelawak”, ya kerjaannya cuman bisa “ngelawak”. Semakin ditentang, semakin ngelawaklah mereka.
Semakin sehatlah rakyat Indonesia ke depannya, karena menyaksikan lawakan pemerintahan yang satu ini, yang anehnya seperti tidak pernah ada habisnya.
Oleh karena itu, jika Anda ingin sehat, tertawakan saja negara ini sekeras-kerasnya. Sebelum Anda nantinya ditertibkan oleh mereka. (*)



