Mabur.co- Fenomena kosongnya sekitar 7000 kursi di Sekolah Dasar (SD) Negeri Kota Yogyakarta pada tahun ajaran 2026/2027 menjadi sinyal serius yang tak bisa lagi dipandang sebagai persoalan rutin penerimaan siswa baru.
Di balik angka tersebut, tersimpan pertanyaan besar mengenai daya tarik sekolah negeri, perubahan preferensi masyarakat, hingga efektivitas kebijakan pendidikan dasar di perkotaan.
Kondisi ini berkaca pada pelaksanaan penerimaan siswa tahun sebelumnya yang belum mampu memenuhi seluruh kapasitas sekolah dasar di kota tersebut.
Wakil Walikota Yogyakarta, Wawan Harmawan, S.E., M.M. mengatakan, fenomena tersebut sebagai anomali sosial yang perlu segera dicari akar persoalannya.
Kualitas Pendidikan Sekolah Negeri
Persoalan ini bukan semata soal jumlah murid, melainkan menyangkut persepsi publik terhadap kualitas pendidikan yang ditawarkan sekolah negeri.
Sekolah tidak bisa lagi hanya mengandalkan status negeri untuk menarik siswa. Kepala sekolah dituntut menjadi pemimpin yang mampu membangun reputasi, menghadirkan inovasi pembelajaran, serta menjalin komunikasi aktif dengan masyarakat.
“Kalau sekolah tidak berkembang dan tidak mampu menarik kepercayaan masyarakat, tentu akan menjadi bahan evaluasi,” katanya usai menghadiri Peringatan Hari Anti-Narkotika Internasional, di Halaman Kantor BNN Kota Yogyakarta, Sabtu (27/6/2026).

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori, mengatakan pihaknya meminta kepada sekolah-sekolah, terutama SD, untuk melakukan berbagai inovasi guna menarik minat calon peserta didik baru pada SPMB 2026/2027.
“Sekolah ya cari murid langsung, kedua meningkatkan prestasi. Untuk meningkatkan keterisian sekolah, Disdikpora Kota Yogyakarta juga tidak membatasi pendaftaran siswa SD dari wilayah luar Kota Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan kota tersebut,” katanya, saat diwawancarai via telepon, Sabtu (27/6/2026).

Budi mengatakan, kebijakan itu dilakukan untuk mengejar target keterisian sekolah dasar minimal 80 persen.
“Sistem seleksinya nanti diurutkan berdasarkan usia. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya jumlah pendaftar. Salah satunya adalah lokasi SD Negeri Kintelan 2 yang berdekatan dengan sekolah lain yang dinilai memiliki kualitas lebih baik. Selain itu, sekolah-sekolah tersebut menggunakan sistem pendaftaran real time online (RTO).
Dengan semangat yang baru kami akan meningkatkan kualitas sekolah dan menempuh beberapa langkah untuk bisa menarik perhatian dan minat siswa mendaftar di SDN Kintelan 2,” katanya. ***

