Era Presiden Prabowo Subianto ini sepertinya menjadi era yang justru sangat problematis. Banyak program yang blunder.
Maksudnya baik dan perencanaannya matang namun implementasinya di lapangan justru morat-marit.
Salah satu yang mengedepan pastilah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program andalan dengan anggaran sangat besar.
Namun masih banyak persoalan yang belum tertangani dengan baik. Misalnya mencegah terulangnya kasus keracunan di berbagai daerah.
Sebenarnya cukup sayang juga jika anggaran besar MBG justru menjadikan program tersebut tidak populis.
Oleh sebab itu, koreksi manajemen secara menyeluruh sudah saatnya dilakukan. Apalagi kini adalah momentum awal tahun.
Kita tahu, belum lama masalah keracunan MBG juga masih dirasakan saudara-saudara kita di Kudus, Jawa Tengah.
Pertanyaan mendasar, kenapa program yang melibatkan pakar gizi dan kuliner itu bisa sampai sebegitu rumit solusi permasalahannya?
Boleh jadi masalahnya ada pada sisi budaya monitoring atau pengawasan serta pengawalan yang lemah.
Harusnya jika situasinya sudah rentan keracunan begini, maka aspek optimalisasi budaya monitoring atau pengawasan bahkan pengawalan perlu lebih diintensifkan.
Monitoring ini difokuskan pada pengawalan memasak hingga kesiapan tersaji. Manajemen waktunya harus ketat dan benar-benar pas. Jika sudah basi, misalnya, kenapa masih juga dibagikan?
Aspek monitoring sebagai pencegahan ini perlu mendapatkan perhatian khusus. Aspek monitoring diharapkan dapat menyelamatkan program MBG yang sangat mulia agar tidak terjerumus dalam kesia-siaan.
Oleh sebab itulah, di awal tahun ini kita menunggu gebrakan lompatan yang gemilang dari para pengampu program MBG. Agar generasi anak-anak dan warga negara lain secara umum tidak terhantui ketakutan.
Jangan sampai warga negara Indonesia begitu mendengar kosa-kata MBG justru langsung terperanjat dan berdebar-debar. Sisi trauma yang juga mungkin muncul harus dieliminasi.
Oleh sebab itulah, mari sebagai warga negara Indonesia kita pacu para pengampu program MBG dapat lebih berhati-hati dalam menerapkan program monumental dan spektakuler ini.
Agar memang tercipta generasi emas yang mampu sebagai penerus bangsa Indonesia menuju kejayaan kembali.
Sebagaimana cita-cita leluhur bangsa Indonesia sejak awal kemerdekaan dahulu kala hingga kini dan ke depan nanti. ***



