Mabur.co – Tanggal 31 Agustus ini, tepatnya pada 14 tahun lalu, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi dikukuhkan sebagai daerah istimewa, melalui pengesahan Undang-undang nomor 13 tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ada pun salah satu keistimewaan DIY adalah predikatnya sebagai kota pendidikan atau kota pelajar.
Predikat ini membuat Yogya banyak didatangi oleh masyarakat dari berbagai daerah di seluruh Indonesia, untuk mengenyam pendidikan di segala tingkatan, mulai dari TK hingga perguruan tinggi, dan seterusnya.
Menurut Paniradya Pati, Kurniawan, salah satu faktor yang mendorong predikat Yogya sebagai kota pendidikan maupun kota pelajar adalah momen peralihan ibu kota dari Jakarta ke Yogya, pada awal 1946 hingga akhir 1949 lalu.
Selama periode tiga tahun sebagai ibu kota pada saat itu, Yogya benar-benar memberikan fondasi dasar pendidikan yang sangat kuat bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang saat itu baru berusia “balita” (dalam konteks bayi) untuk ukuran sebuah negara.
Fondasi itu kemudian menjadi sumbangsih yang sangat besar bagi NKRI secara keseluruhan, karena Yogya menjadi cikal bakal pendidikan di masa-masa awal kemerdekaan Indonesia.
“Ibu kota NKRI itu pernah di Yogya, saat Indonesia baru berumur satu tahun. Sehingga segala sesuatunya juga berawal dari Yogya. Misalnya saja perpustakaan negara, itu lahirnya di Yogya. Bahkan, saat ibu kotanya ada di Yogya, yang turut membiayai NKRI itu juga dari Yogya. Karena tentu saja waktu itu belum ada APBN seperti sekarang. Sehingga hampir semua hal itu (di Indonesia) awalnya dari Yogya,” tandas Kurniawan, seperti dilansir dari kanal YouTube Paniradya Kaistimewan, Senin (31/8/2026).
Pusat Pendidikan dan Pemerintahan
Kurniawan menambahkan, DIY juga ikut menjadi pusat berdirinya berbagai perguruan tinggi, sekolah, maupun pemerintahan, yang terus dipergunakan hingga saat ini.
Meskipun akhirnya ibu kota NKRI kembali ke Jakarta sejak akhir 1949 sampai sekarang, namun peranan “istimewa” DIY di awal-awal masa kemerdekaan adalah sumbangsih yang selalu dikenang dalam sejarah bangsa Indonesia.
Sehingga DIY pun berhak atas predikat keistimewaan, melalui Undang-undang Keistimewaan yang disahkan pada 31 Agustus 2012 lalu.
“Banyak juga perguruan tinggi yang lahirnya di Yogya, banyak sekolah yang juga lahirnya di Yogya. Bahkan pusat-pusat pemerintahan itu juga banyak yang berdiri pertama kali di Yogya. Sehingga berawal dari situlah, yang kemudian mengawali Yogya itu sebagai pusat pendidikan, dan terus bertahan sampai sekarang. Jadi, meskipun ibu kotanya pindah ke Jakarta, Yogya tetap dikenal sebagai tempat untuk (mengenyam) pendidikan,” tambah Kurniawan.
Di balik segala dinamika yang terjadi di Yogya belakangan ini, seperti maraknya kasus klithih, kekerasan di kalangan pelajar, bullying, dan sebagainya, predikat istimewa Yogya sebagai kota pendidikan maupun kota pelajar akan tetap selalu identik dengan DIY sampai kapan pun. (*)
