Mabur.co – Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), Supriyono alias Botok, mengaku telah memetik sejumlah pelajaran berharga, setelah melakukan aksi demo bersama rekan-rekan AMPB di depan gedung DPR RI Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026) lalu.
Ia selaku koordinator sejatinya telah mengetahui adanya dugaan untuk membuat kerusuhan dari sejumlah pihak, yang mengatasnamakan pihak AMPB. Sehingga nantinya nama Pati akan tercoreng, dan menjadi perbincangan buruk di skala nasional maupun internasional.
Meski begitu, Botok dan pihak AMPB tetap bersyukur, bahwa dugaan itu tidak lantas menggoyahkan Botok dan kawan-kawan, untuk tetap menggelar aksi, dan melakukan audiensi di gedung DPR RI.
18 Tahun RUU Perampasan Aset
Demi menyampaikan aspirasi untuk segera mengesahkan rancangan Undang-undang (RUU) Perampasan Aset Koruptor, yang sudah menjadi pembahasan selama 18 tahun lamanya.
“Kita sudah mengantisipasi kemungkinan bahwa demo di depan DPR ini akan disusupi supaya berjalan ricuh. Setelah itu nanti Pati akan dikambinghitamkan, kita (AMPB) ditangkap. Karena kan sebelumnya juga sudah banyak wacana ya, bahwa Pati ini datang ke Jakarta punya niat untuk membuat kerusuhan dan lain sebagainya. Dan alhamdulillah berkat izin Allah, semuanya berjalan sesuai dengan rencana kita,” tutur Supriyono alias Botok, seperti dilansir dari kanal YouTube KOMPASTV, Minggu (30/8/2026).
Jakarta Bukanlah Pati
Botok pun melihat satu pelajaran penting dalam peristiwa ini. Di tengah situasi bangsa yang sedang tidak baik-baik saja, ia dan teman-teman AMPB menyadari bahwa Jakarta bukanlah Pati, dan tidak bisa diperlakukan dengan cara yang sama seperti layaknya di daerah.
Mengingat isu perampasan aset koruptor telah menjadi wacana skala nasional sejak bertahun-tahun lamanya.
Untuk itu, setelah menyadari adanya provokator maupun “sutradara” yang berusaha menimbulkan kerusuhan yang tidak diinginkan, Botok dan pihak AMPB pun segera membubarkan diri dari depan gedung DPR RI, dan kembali pulang ke Pati untuk menjalani aktivitasnya seperti semula.
“Pada saat saya naik mobil komando, saya dengar di depan saya, di kiri saya, di kanan saya, itu banyak sekali provokator, yang seolah-olah ingin memojokkan Pati. Bahkan ada juga yang mengeluarkan senjata tajam. Akhirnya kita dievakuasi oleh abang-abang ojol (ojek online), terus saya dan kawan-kawan itu diminta masuk dalam bus. dan diamankan di suatu tempat.
Malam sebelum aksi tanggal 27 Agustus, memang kita sudah mempersiapkan plan A, B, C, dan seterusnya, Jadi kita sudah membaca situasi dan langkah-langkah apa yang nanti akan kita ambil (saat aksi berlangsung). Termasuk dugaan adanya ‘sutradara’ di balik layar, supaya Pati ini dicap sebagai perusuh, dan alhamdulillah misi mereka gagal ya,” tambah Botok.
Botok pun dengan tegas menyatakan bahwa kerusuhan yang terjadi setelah itu, termasuk di malam harinya, yang turut menewaskan Bambang Setiyawan akibat dikeroyok massa di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat, bukanlah berasal dari kelompok AMPB.
Ia pun mendukung penuh proses penanganan dan penyelidikan kasus pengeroyokan tersebut kepada aparat kepolisian, agar segera mengusut tuntas para pelaku yang sebenarnya. (*)
