Tak Hanya Dipahami sebagai Perjalanan Rasulullah, Isra Mikraj Simbol Perjalanan Seorang Hamba Menuju Allah

Mabur.co– Peringatan Isra Mikraj selalu menjadi momen penuh makna bagi umat Islam. Peristiwa agung ini mengingatkan kembali perjalanan spiritual Rasulullah SAW yang sarat dengan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. 

Ustaz Abdul Razaq, seorang aktivis dakwah dan sosial, menuturkan,  Isra Mikraj tidak hanya dipahami sebagai perjalanan fisik Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dan naik ke Sidratul Muntaha. Tetapi juga sebagai simbol perjalanan rohani (suluk) seorang hamba menuju Allah.

Isra melambangkan proses takhalli (melepaskan diri dari keterikatan dunia), sedangkan Mikraj melambangkan taḥalli dan tajalli, yakni dihiasinya hati dengan sifat-sifat mulia hingga merasakan kedekatan dengan Allah.

“Isra Mikraj  menanamkan harapan bahwa manusia, meski lemah dan penuh dosa, tetap memiliki jalan kembali kepada Allah. Rasulullah SAW mengalami Isra Mikraj setelah masa penderitaan berat (tahun kesedihan). Ini menjadi pelajaran berharga bahwa kesempitan hidup bukan akhir, tetapi pintu menuju kedalaman spiritual. Salat yang diwajibkan saat Mikraj sebagai mi‘raj al-mu’min (tangga naiknya orang beriman), yakni sarana harian untuk menyambung hubungan rohani dengan Allah,” ujarnya saat dihubungi mabur.co via telepon, Jumat (16/1/2026).

Abdul Razaq juga menuturkan, salat menjadi solusi kehidupan, karena ia menyambungkan hamba dengan sumber kekuatan. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45).

Salat yang hidup adalah salat yang menghadirkan hati, menenangkan jiwa, dan menuntun keputusan. Isra Mikraj juga mengajarkan disiplin waktu dan tanggung jawab. Salat diwajibkan pada waktu-waktu tertentu sebagai latihan istiqamah. Allah SWT berfirman, “Innaṣ-ṣalaata kaanat ‘alal-mu’miniina kitaaban mauquutaa yang artinya sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya.” (QS. An-Nisa’: 103).

“Disiplin salat melatih tanggung jawab, ketepatan, dan amanah, nilai yang sangat dibutuhkan di tengah zaman serba cepat,” tandas Abdul Razaq.

Abdul Razaq pun menegaskan, bahwa Imam Ibn Qayyim Rahumahullah mendudukkan salat sebagai fondasi iman, di mana kualitas salat menentukan kekuatan aqidah dan ketahanan jiwa.

Ia sebut salat sebagai “penolong terbesar untuk maslahat dunia-akhirat” dan “jangkar” melawan kelalaian hati. Di tengah tantangan zaman, distraksi, dan krisis makna, salat adalah jangkar iman.

“Untuk itu, menjadi hal sangat penting bagi kita dalam kehidupan saat ini dan selanjutnya untuk menjadikan salat sebagai pusat solusi. Seluruh masalah yang terjadi dalam kehidupan kita, perbaiki salat sebelum mencari jalan lain,” ungkapnya.

Abdul Razaq menambahkan, salat yang khusyuk membersihkan hati, menguatkan iman, dan membuka pintu pertolongan serta rezeki Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam Alquran bahwa salat adalah penolong (QS. Al-Baqarah: 45) dan jaminan rezeki (QS. Thaha: 132).

“Mendisiplinkan waktu salat sebagai latihan tanggung jawab. Tepat waktu dalam salat akan melatih tepat janji dalam hidup. Untuk itu, perlu terus diikhtiarkan secara maksimal,”katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *