Mabur.co – Sejumlah warga maupun pelaku usaha di kawasan pesisir pantai Kulon Progo, menanggapi santai adanya potensi bencana dahsyat berupa gempa bumi megathrust dengan magnitudo di atas 8 di wilayah pantai selatan DIY.
Yang menarik, alasan warga untuk memilih tak terlalu merisaukan potensi bahaya gempa bumi megathrust ini ternyata disebabkan oleh banyak faktor. Mulai dari faktor keterdesakan ekonomi, pendidikan hingga pemahaman spiritual.
Salah seorang pelaku usaha di kawasan wisata yang menghubungkan Pantai Glagah dan Congot, Sulastri, mengakui sempat mendengar munculnya isu atau kemungkinan terjadinya gempa bumi megathrust di sepanjang pesisir pantai Pulau Jawa.
Meski begitu ia mengaku tak terlalu ambil pusing dengan kabar tersebut. Ia bahkan dengan sadar memilih untuk tetap berjualan di sebuah warung sederhana yang tak jauh dari lokasi bibir pantai karena selalu ramai.
“Dulu memang sempat kepikiran. Pernah juga muncul rasa takut kalau ada tsunami bagaimana. Tapi akhirnya lama-lama tidak saya gubris. Yang penting sekarang tetap bisa jualan dan dapat penghasilan untuk makan sehari-hari,” ungkapnya kepada mabur.co, Senin (20/4/2026).
Hal senada juga diungkapkan warga lainnya, Thohir. Petani tambak udang asal Karangwuni ini setiap hari selalu berada di kawasan pesisir yang hanya berjarak kurang dari 100 meter dari bibir pantai. Sehingga apabila terjadi gempa bumi skala besar, lokasinya pun akan langsung tersapu tsunami.
“Setahu saya gempa bumi itu kan tidak bisa diprediksi kapan terjadi. Dan kalau pun benar terjadi, kita juga tidak bisa apa-apa. Jadi kalau saya ya pasrah saja,” katanya.
Berbeda, salah seorang warga lainnya, Heri mengaku tak terlalu risau dengan kabar tersebut, lantaran sudah mengetahui apa yang mesti dilakukan jika gempa bumi megathrust itu akhirnya benar-benar terjadi.
Menurutnya, selama warga mengetahui berbagai potensi risiko bencana yang akan muncul, maka bukan tidak mungkin setiap warga pun bisa melakukan berbagai langkah mitigasi untuk mencegah dampak kerugian yang besar.
“Katanya itu kalau ada gempa sangat besar, kita hanya punya waktu sekitar 10 menit sebelum terkena tsunami. Sehingga kita harus memanfaatkan waktu tersebut untuk menyelamatkan diri,” katanya
Sebagaimana diketahui, Dewan Pembina Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dwikorita Karnawati, kembali memperingatkan potensi terjadinya gempa bumi megathrust di wilayah selatan DIY.
Menurut mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu, wilayah DIY saat ini bahkan sedang memasuki fase 30 tahun terakhir dari siklus gempa megathrust besar yang berpotensi melepaskan energi setara magnitudo 8,7.
“Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi hasil studi sains untuk mendukung kebijakan. Kita berada di ujung siklus 200 tahun yang belum rilis energinya. Potensi magnitudo bisa mencapai 8,7, sehingga kesiapsiagaan di DIY harus ditingkatkan secara serius,” katanya dikutip dari Antara. ***



