Mabur.co- Sebagian publik di media sosial (medsos) sedang ramai menyoroti curhatan dari seorang warga negara Indonesia (WNI), Dinasti Rahadiyanti, tentang kehidupannya di Kota Amsterdam, Belanda.
Dinasti menceritakan saat dirinya mendapati kebijakan pemadaman listrik di wilayah tempat tinggalnya. Bukan tentang dingin dan gelapnya lampu yang mati, Dinasti justru menyoroti perhatian pemerintah setempat terhadap warganya akibat pemadaman listrik itu.
“Waktu listrik mati di Amsterdam, yang bikin aku panik bukan gelapnya,” ungkapnya, melalui akun Instagram pribadinya.
Dinasti mengatakan, pemerintah setempat di Kota Amsterdam sempat membagikan imbauan berupa buku panduan bertahan hidup selama 72 jam bagi warganya yang terdampak pemadaman listrik.
“Amsterdam listrik padam, capek, dingin, gelap, overthinking, pemerintah baru sebar panduan bertahan hidup 72 jam,” tuturnya.
Dalam postingannya, Dinasti mengungkapkan tentang panduan bertahan hidup itu sebagai pengingat bagi warga setempat. Yang bikin takut bukan listrik mati, tapi rasa tidak siap.
“Panduan 72 jam itu bukan ramalan, itu pengingat, kita boleh lelah namun tetap harus siap,” terang Dinasti.
Dinasti menuturkan, isi panduan hidup 72 jam itu didapatkan dari surat yang dibagikan melalui mailbox atau kotak surat di kediamannya.
“Isi totalnya 32 halaman memandu tentang cara buat mempersiapkan diri jika sampai tidak ada listrik, air, dan tidak ada makanan,” tuturnya.
Dinasti menyebut, warga perlu menyiapkan stok makanan kering hingga 3 liter air per orang.
Menganjurkan kita sudah siapkan tas darurat berisi uang cash, essential, makanan kering, lilin dan senter.
“Seserius itu hidup di Belanda? Stay safe semua ya,” imbuh Dinasti. ***



