Mabur.co – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, hadir dalam perhelatan Sriwijaya Philately Exhibition (PHEX) 2026 di Atrium Palembang Square Mall, Kota Palembang, Sumatra Selatan.
Dalam rilis yang diterima mabur.co, Sabtu (12/9/2026), pameran filateli internasional yang berlangsung pada 10–13 September 2026 tersebut menjadi ruang apresiasi, edukasi, dan pelestarian sejarah melalui koleksi prangko, kartu pos, serta berbagai memorabilia filateli.
Relevansi dengan Perkembangan Teknologi
Menbud, Fadli Zon, mengatakan filateli memiliki relevansi yang kuat di tengah perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, prangko dan benda-benda filateli merupakan bagian dari material culture yang merekam perjalanan sejarah, tokoh, peristiwa, serta identitas budaya suatu bangsa.
Menbud Fadli Zon yang juga merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI), menjelaskan bahwa Perkumpulan Filatelis Indonesia telah memiliki sejarah panjang.
Organisasi ini lahir pada 1922 di Batavia dan kini telah berusia sekitar 104 tahun. Memasuki era digital, Menbud Fadli Zon menilai keberadaan filateli dapat menjadi cara untuk kembali mengapresiasi benda-benda fisik yang menyimpan rekam jejak kehidupan manusia.
Luasnya Informasi melalui Filateli
Berbagai tema yang tercermin dalam prangko menunjukkan luasnya informasi yang dapat dipelajari melalui filateli.
Prangko dapat merekam peristiwa sejarah, tokoh-tokoh, cagar budaya, hingga berbagai fenomena yang terjadi dalam perjalanan bangsa.
“Prangko selalu memotret peristiwa sejarah, tokoh-tokoh, termasuk misalnya cagar budaya yang ada di Palembang dan di Sumatra Selatan. Jadi, ini adalah penanda zaman,” ungkap Menbud Fadli.
Menbud Fadli Zon menilai filateli juga memiliki nilai edukatif yang kuat, khususnya bagi generasi muda. Kegiatan mengoleksi dan mempelajari benda filateli dapat melatih ketekunan, kerajinan, kejujuran, persahabatan, sekaligus kemampuan berkomunikasi.
Di tengah perubahan cara manusia berkomunikasi, dari surat-menyurat hingga komunikasi digital secara real time, Menbud Fadli Zon mengatakan filateli tidak semata-mata mengajak masyarakat kembali ke masa lalu.
Lebih dari itu, filateli menjadi bagian dari perjalanan bangsa sekaligus medium untuk belajar mengenai sejarah dan budaya.
“Loncatan-loncatan teknologi ini tentu mengubah life style kita, cara hidup kita, dan cara bergaul kita. Tetapi kalau kita sekarang ini mengangkat kembali filateli, sebenarnya bukan sekadar kembali ke masa lalu. Ini adalah bagian dari perjalanan bangsa kita, bagian dari sejarah kita, dan juga medium untuk edukasi, medium budaya, media untuk belajar, dan banyak lagi yang bisa kita pelajari dari situ,” jelas Menbud.
Sriwijaya PHEX 2026 mengangkat sejarah Sriwijaya dan jejaringnya dengan berbagai wilayah di Asia. Pameran ini diikuti delegasi dari delapan negara, yakni Singapura, Laos, Brunei, Malaysia, India, Nepal, Filipina, dan Uni Emirat Arab, serta peserta dari 11 provinsi di Indonesia.
Ketua Pengurus Daerah PFI Sumatra Selatan sekaligus Ketua Pelaksana Sriwijaya PHEX 2026, H.M. Affan Prapanca, mengatakan penyelenggaraan pameran internasional tersebut dirancang untuk memperkenalkan filateli sekaligus menghubungkannya dengan seni budaya dan kegiatan kemasyarakatan.
Affan menjelaskan, Sriwijaya PHEX 2026 berlangsung selama empat hari dan dirangkaikan dengan berbagai lomba yang melibatkan pelajar tingkat SD, SMP, SMA, serta masyarakat.
Ia menambahkan bahwa literasi filateli perlu terus diperkuat agar dapat menjadi salah satu sarana pembinaan generasi muda.
Sementara itu, menurut Menbud Fadli Zon, pengangkatan tema Sriwijaya menjadi salah satu kekuatan dalam pameran tersebut.
“Sriwijaya ini adalah kerajaan besar, kerajaan maritim, kerajaan yang besar pengaruhnya sampai di Asia, bahkan sampai di India. Raja Balaputradewa pernah membuat Prasasti Nalanda dalam bentuk copper plate untuk Raja Pala di India dalam rangka pembangunan Nalanda pada abad ke-8 atau abad ke-9. Ini adalah salah satu cara sebagai media promosi budaya kita” papar Menbud.
Lebih jauh, Menbud Fadli Zon melihat kecenderungan masyarakat, termasuk generasi muda, untuk kembali mengapresiasi benda-benda fisik di tengah dominasi teknologi digital.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan bahwa material culture memiliki nilai yang semakin penting.
“Ketika ada kejenuhan digital, orang berusaha untuk mengapresiasi sesuatu yang material, material culture. Dan material culture ini menurut saya adalah sebuah potensi ekonomi baru,” tuturnya.
