Caracas, Venezuela — Presiden Venezuela Nicolás Maduro Moros dilaporkan telah ditangkap oleh pasukan khusus Amerika Serikat (AS) dalam sebuah operasi militer “berskala besar” yang mengguncang ibu kota Caracas pada Sabtu (3/1/2026) dini hari.
Sebagaikana dilansir dari CBS News+1, pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan bahwa Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, telah berhasil ditangkap dan dibawa ke luar negeri untuk menghadapi proses hukum di Amerika Serikat.
Trump menyatakan pemerintahan AS akan “sementara menjalankan” pemerintahan Venezuela untuk memastikan transisi berjalan aman dan lancar.
Serangan itu, yang menurut laporan melibatkan pasukan khusus Delta Force dan beberapa unit militer AS, terjadi setelah serangkaian ledakan terdengar di berbagai lokasi strategis di sekitar Caracas serta negara bagian lain di Venezuela. Maduro dituduh oleh pemerintah AS terlibat dalam jaringan narco-terrorism dan perdagangan narkoba internasional, tuduhan yang telah lama dibantah oleh pemerintah Venezuela.
Klaim penangkapan ini mendapat tanggapan keras dari pemerintah Venezuela yang melalui pernyataan resmi menyebut tindakan AS sebagai “agresi militer” terhadap negara berdaulat. Sementara itu, reaksi dunia internasional beragam — beberapa negara mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional, sementara pihak lain menyatakan dukungan terhadap usaha menegakkan rule of law.

Jejak Karier Maduro: Dari Sopir Bus hingga Puncak Kekuasaan
Nicolás Maduro Moros lahir pada 23 November 1962 di Caracas, Venezuela ke dalam keluarga kelas pekerja. Dalam Encyclopedia Britannicai disebutkan aebelum menapaki panggung politik nasional, Maduro dikenal sebagai sopir bus dan aktivis serikat pekerja, terlibat aktif dalam organisasi buruh yang kemudian mengantar namanya ke dunia politik. Kiprah awalnya dalam gerakan buruh membuatnya berkenalan dengan Chavez dan ideologi chavismo, yang kemudian menjadi landasan kuat karier politiknya.
Masuk ke dunia legislatif pada akhir 1990-an, Maduro kemudian menjadi Presiden Majelis Nasional dan dilantik sebagai Menteri Luar Negeri Venezuela pada 2006 hingga 2012. Posisi ini memperluas jaringan politiknya, terutama dengan negara-negara sekutu ideologis seperti Kuba dan sekutu regional lain.
Pada 2012, setelah Hugo Chávez memenangkan kembali kursi presiden, Maduro dipilih sebagai wakil presiden. Ketika Chávez meninggal dunia pada 2013, Maduro mengambil alih jabatan sebagai presiden sementara dan memenangkan pemilihan khusus untuk melanjutkan masa jabatan Chávez. Sejak itu, ia memimpin Venezuela hampir selama 13 tahun hingga penangkapannya.
Masa Kepemimpinan yang Kontroversial
Sebagaimana dikutip dari The Star, kepemimpinan Maduro di Venezuela dikenal sangat kontroversial. Di satu sisi, pendukungnya melihat ia sebagai penerus yang setia terhadap revolusi Bolivarian yang dicetuskan Chávez. Namun di sisi lain, masa pemerintahannya diwarnai oleh krisis ekonomi parah, hiperinflasi yang menghancurkan nilai mata uang, serta kelangkaan kebutuhan pokok yang membuat jutaan warga Venezuela memilih meninggalkan negeri mereka.
Selain itu, berbagai pemilihan yang dimenangkannya – termasuk pemilu 2024 yang menimbulkan tuduhan kecurangan luas — semakin memicu kecurigaan internasional bahwa pemerintahan Maduro tidak sepenuhnya mencerminkan proses demokrasi yang bebas dan adil. Pada 2025, Maduro dilantik untuk periode ketiganya meski banyak negara dan pengamat internasional mempertanyakan legitimasi hasilnya.
Tantangan Global dan Masa Depan Venezuela
Dengan ditangkapnya Maduro oleh pasukan AS, panggung politik Venezuela kini memasuki fase baru yang penuh ketidakpastian. Di satu sisi, beberapa pemimpin oposisi menyambut peristiwa ini sebagai peluang untuk reformasi politik, sementara di sisi lain, banyak negara mengecam langkah AS sebagai pelanggaran kedaulatan nasional. Axios
Sejumlah analis politik mengatakan bahwa proses hukum yang akan dihadapi Maduro di AS maupun implikasi diplomatiknya akan sangat memengaruhi hubungan Washington dengan negara-negara Amerika Latin dan blok global lainnya. Baik Venezuela maupun komunitas internasional kini menanti perkembangan berikutnya dalam situasi yang cepat berubah ini.



