Mabur.co – Arisan biasanya identik dengan uang atau barang-barang mewah seperti emas hingga kendaraan.
Namun, warga Desa Tanen, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, punya cara berbeda dalam menjalankan tradisi arisan.
Di desa yang terkenal dengan hasil pertaniannya ini, masyarakat menggelar arisan bukan dengan uang melainkan gabah.
Hal itu bahkan pernah diteliti oleh mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Erlin Nur’aina Kharisma Melati.
Arisan Dua Kali Setahun, Sesuai Siklus Panen
Dalam penelitian tersebut ia menjelaskan, dikutip mabur.co, Sabtu (25/7/2026), masyarakat Desa Tanen rutin menggelar arisan setiap musim panen. Tradisi ini dilakukan dua kali dalam setahun, mengikuti siklus panen padi.
Digelar di rumah salah satu anggota yang telah disepakati bersama, dalam arisan tersebut setiap anggota wajib menyetorkan satu kuintal gabah yang telah dibersihkan dan dijemur hingga kering.
Selain gabah, setiap anggota juga membayar iuran Rp10.000 setiap kali arisan. Sebagian iuran tersebut digunakan untuk membayar jasa penimbang gabah. Sementara sisanya diberikan kepada anggota yang mendapatkan giliran undian.
Tradisi ini menjadi unik karena arisan biasanya menggunakan uang atau barang mewah seperti emas hingga sepeda motor sebagai objek utama.
Penggunaan gabah dalam arisan ini bukan tanpa alasan. Sebab bagi masyarakat Desa Tanen, gabah bukan sekadar hasil panen. Komoditas pertanian ini juga merupakan bagian dari kehidupan keseharian mereka.
Sehingga tak heran bila masyarakat Desa Tanen memilih gabah sebagai objek utama dalam arisan. Hal ini juga menjadi bukti bahwa arisan tidak harus selalu berupa uang. Bahkan, hasil panen pun dapat menjadi bagian dari tradisi arisan.
Yakni sebagai cara untuk menabung dengan disesuaikan berdasarkan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat di suatu wilayah yang berbeda-beda.
