Mabur.co- Selama puluhan tahun, Desa Pucung, Wukirsari, Imogiri terkenal dengan sentra industri wayang kulit.
Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai perajin wayang kulit. Keahlian membuat wayang diperoleh dari leluhur sejak tahun 1930-an.
Sejak itu Desa Pucung dinobatkan sebagai Sentra Kerajinan Wayang Kulit oleh Pemerintah Kabupaten Bantul.
Menuju lokasi ke sana, suasananya masih rindang, banyak pohon yang masih bisa ditemukan di kawasan ini. Hawanya pun sejuk, berbeda dengan Kota Yogyakarta yang sudah mulai panas akibat banyaknya kendaraan bermotor.
Perajin wayang, Parji Tresno, mengatakan, tak hanya membuat wayang, bahkan warga Dusun Pucung sampai sekarang masih melestarikan tradisi pementasan wayang.
“Biasanya mereka menggelar pementasan wayang secara meriah pada setiap tradisi Majemukan yang digelar setahun sekali,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, daerah Pucung, Karangasem, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Jumat (5/6/2026).

Parji mengatakan, masyarakat di Dusun Pucung tak hanya mengembangkan kerajinan wayang kulit. “Mereka juga mengembangkan kerajinan lain. Di antaranya maskot gantungan kunci, pembatas buku, hiasan dinding, kaligrafi, serta kipas dari kulit kambing,” ujarnya.
Parji mengatakan pula, terkait cara pembuatannya pertama adalah mengupas kulit hewan baik itu kerbau, sapi, dan kambing.
“Habis pengupasan hewan kulit dikeringkan, normalnya dua hari tapi tergantung cuaca juga. Lalu kulit dikerok dan dibasahi lagi. Lalu selesai semua itu kita buat pola tokoh pewayangan dengan digambar dan ditatah sesuai pola,” ujarnya.

Parji mengatakan lagi, selesai membuat pola wayang kulit lalu berlanjut ke proses pewarnaan dengan cat air.
Apabila sudah rampung, mulailah proses perangkaian dan pemasangan gagang wayang dari tanduk kerbau.
“Untuk wayang di Pucung menggunakan kulit, ada 3 jenis kulit hewan yakni kulit kerbau, sapi, dan kambing. Misalnya wayang kulit kerbau itu untuk dalang, kulit sapi untuk hiasan dinding, dan kulit kambing untuk suvenir yang kecil seperti pembatas buku,” katanya.

Parji menuturkan, terkait lama pengerjaan wayang kulit, memakan waktu puluhan hari. Mengingat ia sangat mengutamakan kualitas dari wayang buatannya.
“Untuk membuat satu gunungan itu bisa memakan waktu sekitar 20 hari, karena itu masuk kualitas halus. Karena kita memiliki 3 kategori kualitas, mulai kasar, sedang dan halus,” ucapnya.
Apabila ada pesanan dengan jumlah banyak, ia membagi dengan anggota kelompok perajin wayang Pucung.
“Untuk menyelesaikan satu set wayang dengan jumlah 200 tokoh pewayangan memakan waktu sekitar tiga bulan,” ucapnya.
Wayang Paling Mahal Berkulit Kerbau
Menyoal harga wayang di Pucung, menurutnya, wayang yang paling mahal adalah yang menggunakan kulit kerbau dengan kualitas halus.
“Untuk satu wayang gunungan dari kulit kerbau bisa mencapai Rp3-4 juta, kalau kulit sapi sekitar Rp2 juta. Kalau pakai kulit kambing untuk wayang gunungan kurang bagus karena tipis kulitnya,” ucapnya.
Untuk satu set isi 200 wayang yang biasa Rp700 juta, itu kulit kerbau yang halus tapi bukan prodo emas, Kalau pakai prodo emas lebih mahal lagi.
“Kalau untuk satu set wayang kualitas sedang Rp500 juta,” katanya.

Parji memaparkan, meski terbilang mahal, wayang kulit produksi Pucung tetap laku di pasaran.
“Penjualan wayang di Pucung sudah sampai luar negeri. Jadi mungkin bisa dikatakan 40 persen luar negeri dan 60 persen dalam negeri. Sistem jualannya kebanyakan offline, karena biar pembeli bisa tahu langsung kualitasnya, kalau online biasanya hanya untuk wayang kualitas yang kasar-kasar itu,” katanya.
Sementara itu, pengelola Desa Wisata Wayang, Demy Raharja, mengatakan, zaman dahulu hiduplah seorang Abdi Dalem istana yang menyingkir ke pedalaman akibat adanya Perjanjian Giyanti yang memecah Mataram menjadi dua kesultanan yang berbeda: Ngayogyakarta dan Surakarta.
Dia memutuskan untuk membuka lahan baru sebagai sebuah perkampungan di daerah pucung. Abdi Dalem tersebut terkenal sangat ahli dalam membuat wayang.
Lambat laun lahan yang tadinya kosong mulai terisi oleh para pendatang yang ingin belajar cara membuat wayang ke Abdi Dalem tersebut.
Lama-lama daerah tersebut semakin besar dan bergabung dengan desa-desa lainnya menjadi desa yang bernama Wukirsari.
“Sang Abdi Dalem mendapat amanah oleh sang sultan untuk tetap melestarikan wayang sebagai bagian dari kebudayaan Jawa, hingga sampai sekarang desa tersebut terkenal sebagai desa perajin wayang,” ceritanya.
Perjuangan Merintis Wukirsari sebagai Desa Wisata
Demy memaparkan, awal mula perintisan Wukirsari sebagai desa wisata melalui perjuangan yang berat. Saat itu desa belum punya fasilitas gedung apa pun, dengan berat hati, terpaksa harus menumpang gedung PAUD yang terletak di Dusun Karangasem.
“Kita baru pertama kali kebentuk, tahun 2014, akhirnya kita numpang joglo PAUD tahun 2016. Kebetulan sentra perajin wayang juga berada di dusun tersebut. Promosi gencar dilakukan demi menarik pengunjung datang,” katanya.
Untuk menarik perhatian wisatawan, Desa Wisata Wayang menawarkan paket-paket wisata, mulai dari memahat wayang, mewarnai wayang, belajar dalang, pentas dalang, belajar gamelan, ubo rampe janur, membuat wedang uwuh, hingga tracking.
Para wisatawan bisa memilih jenis paket sesuai dengan kebutuhan. Total ada 18 paket yang disediakan Desa Wisata Wayang ini. Harga paket bervariasi.
Sebagai contoh paket sehari, seperti mewarnai wayang, belajar gamelan, belajar dalang, nonton pertunjukan wayang, harganya mulai dari Rp210 ribu sampai dengan Rp270 ribu per orang.
Tetapi pengunjung juga bisa memilih satu jenis kegiatan seperti mewarnai wayang saja atau membuat wayang saja. Di antara kegiatan-kegiatan tersebut, mewarnai menjadi favorit pengunjung.
“Mewarnai wayang itu memang paling banyak peminatnya karena harganya murah, hanya Rp55 ribu untuk ukuran kecil setinggi 25 cm. Selain itu, para pengunjung bisa mendapatkan wayang dan paling simpel dibanding paket-paket lain,” ucapnya.
Demy berharap, Desa Wisata Wayang ini semakin berkembang dan mampu menjadi daya tarik wisatawan. “Selain meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, kehadiran Desa Wisata Wayang ini mampu melestarikan warisan budaya bangsa,” katanya.

