Mabur.co- Selain kawasan Malioboro, di Yogyakarta juga juga terdapat sebuah desa yang menjadi sebuah rumah budaya.
Kawasan ini bernama Desa Wisata Tembi. Nama yang diadaptasikan menjadi sebuah lembaga kebudayaan Rumah Budaya Tembi. Lokasinya berada di sebelah selatan Yogyakarta tepatnya berada di Dusun Tembi, Desa Timbulharjo, Kabupaten Bantul.
Minggu siang (31/5/2026) cukup menyenangkan jika melakukan perjalanan ke Desa Wisata Tembi. Selama perjalanan sangat ternikmati suasana yang asri dan hijau. Terlihat pemandangan yang sangat kental dengan nuansa desa. Area persawahan yang luas terlihat hijau, serta pepohonan di sela-sela rumah penduduk memberi kesan teduh, tenang, dan tenteram.
Banyak Rumah Joglo dan Limasan
Banyak rumah joglo atau limasan yang mempunyai halaman lapang dan tetap dibiarkan apa adanya, namun ada juga yang memang dipersiapkan untuk homestayatau penginapan. Sawah dan sungai yang mengelilingi Dusun Tembi semakin memberi kesan pedesaan. Kondisi alam seperti inilah yang sekarang sudah jarang ditemui di tempat lain, sehingga hal ini menjadi nilai lebih tersendiri bagi desa wisata Tembi.
Namun saat ini tempat wisata bukan hanya memanfaatkan suatu potensi dari tempat atau objek tertentu, tetapi saat ini terdapat juga desa yang dapat dijadikan tempat wisata sehingga disebut desa wisata. Salah satu contohnya adalah Desa Wisata Tembi yang ada di Bantul tersebut.
Pengelola Desa Wisata Tembi, Bantul, Daud Subroto mengatakan, Desa Wisata Tembi berdiri sejak 1998. Desa Wisata tersebut menawarkan nuansa alam dengan berbagai macam keunikan.
“Produk unggulan dari desa wisata ini adalah pertanian, kerajinan, batik, serta kuliner,” ujarnya, saat ditemui mabur.co.
Daud mengatakan, desa wisata ini mengelola 62 homestay hingga saat ini terpantau hampir 100% selalu penuh.
“Kami juga menyediakan tempat khusus bagi para wisatawan untuk menikmati kegiatan yang kami sediakan,” katanya.
Daud menjelaskan, model bangunan yang dipakai di penginapan Tembi banyak mengadopsi dari limasan Jawa tengah dan DI Yogyakarta.
“Tujuannya untuk tetap melestarikan arsitektur dari nenek moyang. Kalau tidak kita lestarikan lama kelamaan itu akan punah,” tuturnya.
Daud mengatakan pula, arsitektur limasan memiliki nilai seni dan filosofi yang sangat tinggi. Ada lima sudut utama yang melambangkan kokohnya sebuah bangunan.
“Jadi limasan ini lebih tahan gempa, turis sangat suka,” paparnya.
Lestarikan Tradisi
Daud menuturkan, Desa Wisata Tembi masih melestarikan tradisi atau budaya yang ada di Tembi dan di Jawa khususnya. Di desa wisata ini yang masih dilestarikan sampai saat ini yakni gobak sodor dan bakiak.
“Selain itu ada bikin hantu-hantu sawah, nanam padi, bajak sawah adalah paling laris dan jalan-jalan ke desa. Di desa wisata tembi juga ada cara membuat sangon,” katanya.
Daud mengatakan lagi, tujuan desa wisata ini adalah untuk menghibur tamu. Tamu datang ke Tembi setelah menikmati keindahan Tembi dengan produk-produk yang ada di Tembi. Agar tamu bisa pulang bahagia.
“Kalau pulang nggerundel tamu enggak akan kembali. Kita berikan servis terbaik agar bisa gethok tular istilahnya orang Jawa. Memberi kabar orang lain tentang kebaikan pelayanan di Desa Wisata Tembi,” ucapnya.
Daud memaparkan, di Desa Wisata Tembi potensi unggulannya selain pertanian, adalah membatik dan Ecoprint.
Kuliner Tradisi
“Di Desa Wisata Tembi juga ada masakan tradisional, seperti sayur lodeh, kalau sangon itu memang ada yang asli Tembi,” katanya.
Salah satu tamu, Elisabet asal Jakarta, menyatakan, berhubung sekarang long weekend ia memilih di homestay.
“Karena besok saya ingin pergi ke pantai. Untuk akses jalan sangat gampang karena di pintu masuk kawasan desa wisata di pinggir jalan. Jadi tidak ada kendala, mobil juga bisa masuk. Desa Wisata Tembi tempatnya nyaman. Suasana pedesaan yang masih terjaga. Kondisi ini tidak bisa dijumpai ketika menginap di hotel tengah kota, ke pantai juga tidak jauh dari desa wisata ini. Sensasi menginap masih kental suasana desa,” katanya. ***

