Mabur.co- Desa Wisata Krebet, pada Minggu pagi (31/5/2026) di kawasan Sendangsari, Pajangan, Kabupaten Bantul, cukup dingin.
Medan jalan yang tertempuh bisa saja tidak semulus yang dipikirkan sebelumnya. Jalanan menuju desa kerajinan batik kayu ini memiliki banyak tanjakan dan tikungan yang cukup tajam.

Setelah melewati perjalanan yang cukup menguji andrenalin, sampailah ke lokasi. Setelah memasuki gapura disambut oleh patung Semar berukuran besar dengan goresan batik yang unik menyerupai pakaian, mulailah ternikmati lagi perjalanan di desa yang memiliki luas 104 hektar tersebut.
Suasana lingkungan desa cukup ramah, sejuk dan rindang, membuat nyaman karena di sepanjang jalan juga disuguhi pemandangan yang apik dari pohon-pohon jati dan sengon. Suasananya begitu asri dan tenang.

Pemandu wisata Desa Wisata Krebet, Purwanti mengatakan, sejarah Desa Wisata Krebet mencakup sentra kerajinan batik kayu.
Proses membatik yang dilakukan masyarakat dengan menggunakan media kayu ini pasti sangat membutuhkan keterampilan.
“Pola di atas kayu akan cukup sulit karena dibuat dengan cara manual. Masyarakat yang membatik dengan kayu ini membutuhkan tingkat ketelitian yang cukup tinggi agar mendapatkan hasil yang memuaskan,” ujarnya, saat ditemui mabur.co.

Purwanti menjelaskan, kreasi karya di Desa Wisata Krebet juga menawarkan motif kayu yang sangat beragam.
Misalnya motif parangrusak, motif parangbarong, sidorahayu, kawung, garuda, dan motif-motif unik lainnya. Berbagai motif yang dibuat memang memiliki nilai estetika yang tinggi.
“Bukan hanya sekadar menawarkan kerajinan batik saja, namun Desa Wisata Krebet ini juga berhasil membuat berbagai produk kerajinan seperti wayang, topeng, asesoris rumah tangga, almari, hiasan batik kayu, kotak perhiasan dan barang lainnya, sejak tahun 1980. Beragam hasil karya kreasi batik kayu ini dapat Anda miliki dengan kisaran harga terjangkau hingga jutaan,” katanya.

Purwanti menjelaskan, Desa Wisata Krebet masih terkenal juga dengan nilai adatnya yang unik dan kental yakni upacara Merti Dusun Krebet. Upacara ini adalah bentuk ungkapan syukur para warga pada Tuhan YME atas segala hasil bumi yang melimpah.
“Upacara merti dusun berlangsung dengan mengarak gunungan berisi bahan makanan pokok sembari menyusuri jalan yang ada di Dusun Krebet. Setelah gunungan tiba di pendapa selanjutnya diserahkan kepada sang sesepuh dan didoakan. Gunungan tersebut akhirnya dibagikan pada para warga,” katanya.
Purwanti memaparkan lagi, Desa Wisata Krebet juga sangat kental dengan acara seni dan budaya. Terdapat beberapa acara seni maupun bidaya yang sering ditampilkan. Misalnya seperti karawitan, jathilan, dan juga Sekat Ali Mocopot yang populer di desa tersebut.
“Jathilan sendiri adalah kesenian yang mempersatukan kekuatan magis dan tarian. Para penari akan kerasukan oleh makhluk/roh halus yang dapat bergerak dengan mengikuti irama musik. Dalam kasus ini pun juga ada yang menyatakan bahwa saat jathilan, para penari dapat memakan benda tajam misalnya silet, kaca, atau benda tajam lainnya,” katanya.

Purwanti menuturkan, setelah Krebet menjadi desa wisata, jumlah perajin terus berkembang. Saat ini, total ada 57 perajin yang tergabung dalam Koperasi Sidokaton.
“Sanggar-sanggar yang ada mampu menghasilkan omzet yang cukup bagus. Memang penghasilan tiap sanggar jumlahnya beda-beda, mulai dari Rp20 juta per bulan hingga Rp70 juta,” katanya.
Purwanti mengatakan lagi, jika rata-rata omzet dari semua sanggar yang ada adalah Rp30 juta, total omzet kerajinan batik kayu di Desa Wisata Krebet bisa mencapai lebih dari Rp1 miliar per bulan.
Purwanti memaparkan, kiprah seni budaya lain yang ada adalah karawitan. Karawitan adalah seni musik yang memiliki cita rasa lengkap, tinggi, dan hanya terdapat di Tanah Air.
Desa Wisata Krebet juga menyediakan kursus khusus bagi yang ingin belajar karawitan. Sejauh ini kelompok Sekar Ali Mocopot merupakan komunitas yang membawakan lagu tradisional asal Jawa. Biasanya dimainkan saat zaman Kerajaan Demak dan Majapahit masih eksis.
“Kesenian ini biasanya berisi tentang lagu-lagu. Kemudian dinyanyikan sesuai dengan kitab kontekstual pada masa Mataram Baru,” katanya.

Purwanti menjelaskan, pemasaran kerajinan ada di dalam negeri dan luar negeri. Untuk Indonesia ada di Jakarta, Surabaya, dan Bali. Sedangkan untuk luar negeri ada di Malaysia, Singapura, dan Australia.
“Harga mulai dari Rp5.000 untuk gantungan kunci, sedangkan untuk harga jutaan seperti meja dan kursi dari harga Rp 25.000.000 ke atas,” katanya.

Salah satu pengunjung, Rina Affifah Nuryani, mengatakan, batik pada umumnya dibuat di atas kain. Namun berbeda dengan batik yang dihasilkan para perajin batik di Desa Krebet.
“Keistimewaan batik yang dibuat di desa wisata ini adalah medianya yang berupa kayu. Batik kayu menjadi sumber penghasilan utama warga sekaligus ikon desa wisata Krebet,” ujarnya.
Rina mengatakan, warga desa memang sangat kreatif hingga akhirnya mereka memanfaatkan kayu sebagai media untuk menggambar batik.
“Batik-batik hasil karya para warga di sini nampak sangat cantik bahkan memiliki nilai seni tinggi,” ucapnya.
Pedagang angkringan di sekitar Desa Wisata Krebet, Sumarni, mengatakan, dulu desa ini hanyalah desa kecil di perbukitan kapur dengan kegiatan pertanian sebagai sektor ekonomi utamanya.
Pada pertengahan 1970-an, sebagian masyarakat mulai membuat kerajinan berbahan kayu sederhana seperti pisau.
“Desa Wisata Krebet ini membantu meningkatkan taraf hidup dan perekonomian masyarakat sekitar. Sebab, rata-rata pemilik sanggar akan mempekerjakan warga sekitar dalam pembuatan kerajinan batik kayu ini,” katanya.

