Tetap Berdiri Kokoh, Masjid Sulthoni Dibangun di Masa Perang Diponegoro - Mabur.co

Tetap Berdiri Kokoh, Masjid Sulthoni Dibangun di Masa Perang Diponegoro

Mabur.co- Satu lagi Masjid Kagungan Dalem yang menarik berada di bagian utara Yogyakarta.

Masjid tersebut adalah Masjid Sulthoni, terletak di Desa Rejodani, Kalurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Masjid tersebut dibangun pada masa perang Diponegoro, tepatnya dibangun pada 1827, dan dibangun oleh Kiai Kasan Besari. Ia adalah panglima dari Pangeran Diponegoro.

Dalam masa perang Diponegoro yang berlangsung antara tahun 1825 hingga 1830, Kiai Kasan Besari menjadikan wilayah Rejodani sebagai wilayah basis pasukan Pangeran Diponegoro dan sekaligus tempat persembunyian Kiai Kasan Besari.

Masjid Sulthoni merupakan salah satu masjid tua Kagungan Dalem Keraton Yogyakarta yang masih berdiri kokoh hingga kini.

Usianya hampir 200 tahun dan telah melewati satu kali renovasi besar, tanpa menghilangkan keaslian bangunan utamanya.

Arsitekturnya kental dengan nuansa Jawa, ditandai atap model tumpang dan ornamen tradisional.

Di dalamnya terdapat empat tiang kayu penyangga utama yang masih asli sejak pertama kali dibangun.  Mustoko atau hiasan puncak masjid juga tetap dipertahankan seperti bentuk awalnya.

Di sisi barat masjid terdapat area makam, ciri khas masjid Kagungan Dalem Keraton Yogyakarta. 

Tokoh masyarakat Rejodani, Achyadi, menuturkan, masjid ini awalnya dibangun di dalam kompleks makam untuk mengelabui penjajah Belanda saat masa perang. Setelah perang berakhir, bangunan masjid kemudian dipindahkan ke lokasi yang ada saat ini.

 “Asal-muasal Masjid Sulthoni cikal bakalnya dari Kiai Besari, prajurit Pangeran Diponegoro pada 1827, dahulu terletak di dalam makam,” ungkap Achyadi, tokoh masyarakat Rejodani, Jumat (5/3/2026).

Achyadi menjelaskan, selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat penyebaran ajaran Islam di kawasan Yogya utara.

“Masjid Sulthoni Rejodani mampu menampung hingga sekitar seribu orang. Aktivitas ibadah rutin, seperti salat lima waktu tetap berjalan, terutama saat Ramadan,” ujarnya.

Sementara itu, takmir masjid, Hendriyan Wiprantoko, menjelaskan, selama Ramadan berbagai kegiatan digelar, mulai dari salat tarawih, buka puasa bersama, pembagian takjil, hingga kajian Islam sebelum berbuka.

“Keberadaan Masjid Sulthoni Rejodani menjadi bukti warisan sejarah dan nilai keagamaan dapat terus hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *