Mabur.co – Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik Sudaryati Deyang, mengakui, adanya sejumlah pihak yang memanfaatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai ladang bisnis.
Hal itu terlihat dari adanya pihak-pihak yang sengaja mendirikan yayasan semata-mata untuk mengelola dapur MBG.
Bahkan, ada pihak tertentu yang memanfaatkan yayasan tersebut untuk mengelola banyak dapur sekaligus dengan orientasi bisnis.
“Sampai bulan Juni, Juli, itu (program MBG) masih on track. Kebanyakan adalah yayasan-yayasan yang benar-benar pure yayasan. Tapi karena target sangat tinggi sekali, muncullah ternak-ternak yayasan. Banyak orang memiliki lebih dari satu dapur,” ungkapnya, Sabtu (7/3/2026), sebagaimana dilansir Kumparan.
Selain menimbulkan kecemburuan antar-yayasan maupun dapur MBG, Nanik mengatakan, kondisi tersebut juga berpotensi menyimpang dari semangat awal MBG yakni sebagai program investasi sosial dan kemanusiaan. Bukan program yang berorientasi pada bisnis.
Dalam beberapa kasus yang ditemui di lapangan, kata Nanik, pengelolaan sejumlah dapur bahkan ada yang lebih berorientasi pada keuntungan sehingga kurang memperhatikan aspek fasilitas dan standar operasional kurang.
“Dampaknya ada pengusaha-pengusaha berkedok yayasan dengan orientasi pada bisnis tadi. Makanya, kamar pun enggak dipikirin, diminta AC susah, kalau peralatan rusak enggak mau ganti karena hitung-hitungannya bisnis,” ujarnya.
Sejak awal Nanik sendiri menegaskan bahwa program MBG bukan dirancang sebagai program bisnis, melainkan lahir dari kepedulian Presiden Prabowo Subianto terhadap kondisi masyarakat, khususnya golongan miskin.
Menurut Nanik, gagasan tersebut berawal dari pengalaman pribadi Prabowo pada 2012, saat melihat langsung kondisi masyarakat miskin yang harus mengais sisa makanan dari para buruh pabrik untuk dibawa pulang dan dimakan kembali bersama keluarga mereka.
“Pak Prabowo waktu itu sangat marah melihat kondisi tersebut. Dari situlah muncul tekad beliau, jika suatu saat mendapat amanah menjadi presiden, ingin memastikan masyarakat terutama anak-anak mendapatkan makanan yang layak,” ujarnya.
Sebagai investasi sosial dan kemanusiaan, pada tahap awal pelaksanaan, program MBG dijalankan dengan membuka peluang kemitraan bagi lembaga yang ingin terlibat dalam penyediaan layanan dapur MBG, dengan prioritas kepada yayasan yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Menurut Nanik, kebijakan tersebut bertujuan agar lembaga-lembaga sosial yang selama ini telah membantu masyarakat juga mendapatkan dukungan untuk memperbaiki fasilitas mereka.
Menyikapi sejumlah penyimpang di lapangan, Nanik menegaskan, pihaknya akan terus melakukan evaluasi terhadap seluruh mitra penyelenggara program MBG.
Jika ada pihak-pihak yang sudah tidak sejalan dengan tujuan awal program maupun memenuhi ketentuan yang disepakati, maka pemerintah secara tegas akan memutuskan kerjasama kontrak dengan dapur MBG tersebut. ***



