Mabur.co- Siapa yang tak mengenal Adam Malik? Pria berpostur kecil dan kurus itu dikenal cerdik, lincah, dan gesit bak kancil. Berbekal ijazah madrasah, ia justru mencatat sejarah sebagai satu-satunya orang Indonesia yang pernah memimpin sidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).
Di dunia diplomasi yang kerap diwarnai gelar akademik dari universitas ternama dunia, nama Adam Malik Batubara tampil sebagai anomali.
Lahir di Pematangsiantar, Sumatra Utara, ia membuktikan bahwa kecerdasan tidak selalu ditempa di bangku kuliah, melainkan juga lahir dari pengalaman, keberanian, dan ketekunan belajar secara mandiri.
Adam Malik merupakan seorang Pahlawan Nasional kelahiran Sumatra Utara yang meninggalkan banyak jejak perjuangan.
Tak heran, di Kota Medan sendiri, ada jalan yang bernama Jalan H. Adam Malik.
Selama 67 tahun masa hidup, berbagai tanggung jawab penting diemban hingga beliau tutup usia akibat terkena kanker. Adam Malik Batubara lahir dari keluarga Muhammadiyah, seorang bapak bernama Abdul Malik Batubara dan ibu yang bernama Salamah Lubis. Adam Malik merupakan anak ketiga dari sepuluh bersaudara, hidup dalam keluarga yang kental dengan budaya Batak Mandailing.
Mantan aktivis, Fajar Pratikno, menuturkan, peran Adam Malik dalam detik-detik kemerdekaan Republik Indonesia tidak dapat dipisahkan dari keberaniannya sebagai representasi golongan pemuda.
Aktor Intelektual Rengasdengklok
Ia menjadi salah satu aktor intelektual di balik Peristiwa Rengasdengklok yang mendesak dwi tunggal Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan demi lepas dari bayang-bayang Jepang.
“Pascaproklamasi dibacakan, Adam Malik mengambil langkah strategis dengan memanfaatkan jaringan radio dan pemancar di Kantor Berita Domei (sekarang LKBN ANTARA). Melalui instruksi, teks proklamasi berhasil disiarkan secara beruntun menggunakan sandi morse, sehingga kedaulatan Indonesia langsung diakui oleh dunia internasional dan diketahui oleh seluruh rakyat di penjuru Nusantara,” katanya, Rabu (22/7/2026).

Menurut Fajar, Adam Malik pernah menempuh pendidikan di Sumatra Thawalib Parabek. Namun, pendidikan formalnya terhenti di tingkat madrasah, karena ia memilih membantu orang tua berdagang.
Pada usia 20 tahun, ia merantau ke Jakarta. Di ibu kota, ia belajar secara autodidak dan menapaki jalan hidup sebagai wartawan.
“Bersama sejumlah rekannya, ia mendirikan Kantor Berita ANTARA. Dengan modal keberanian dan peralatan sederhana, ANTARA menjadi corong penting perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berita-berita yang mereka siarkan mampu menembus pembatasan informasi pada masa penjajahan,” ungkap Fajar.
Diplomasi yang Lugas
Adam Malik memang juga dikenal memiliki pendekatan diplomasi yang lugas. Ungkapannya yang populer, “semua bisa diatur”, mencerminkan keyakinan bahwa setiap persoalan dapat diselesaikan melalui komunikasi yang cerdas dan terbuka.
Peran Adam Malik juga dikenal besar dalam membawa Indonesia kembali menjadi anggota PBB pada 1966. Selain itu, ia turut menjadi salah satu pendiri Association of Southeast Asian Nations melalui Deklarasi Bangkok pada 1967.
Bagi Fajar pula, diplomasi bukan sekadar soal istilah teknis, melainkan tentang integritas dan kemampuan membangun kepercayaan.
Setelah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri selama 11 tahun, Adam Malik dilantik sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ketiga pada 1978. Meski berada di lingkar kekuasaan tertinggi, ia tetap dikenal sederhana dan terus terang.
Adam Malik wafat pada 5 September 1984. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1998 sebagai bentuk penghormatan negara. Kisah Adam Malik menjadi pengingat bahwa keterbatasan pendidikan formal bukanlah penghalang untuk berkiprah di panggung dunia.
“Ketekunan, keberanian, dan kemauan belajar dapat mengantarkan seseorang melampaui batas yang tampak mustahil,” pungkas Fajar.
