Usia Belia, Azizah Harus Pikul Tanggung Jawab Merawat Sang Ayah yang Sakit - Mabur.co

Usia Belia, Azizah Harus Pikul Tanggung Jawab Merawat Sang Ayah yang Sakit

Mabur.co- Di sebuah kamar kos sempit berukuran 3×3 meter di kawasan Mrican, Giwangan, Kota Yogyakarta. Berjarak cuma sekitar dua meter dari bibir sungai, seorang gadis kecil berusia enam tahun bernama Azizah Candrasari menjalani hari-hari dengan cara yang tak biasa.

Ia tak hanya bermain, tapi juga merawat sang ayah, Hermanto (56), yang sedang sakit.

Di usia yang sangat belia, Azizah Candrasari harus memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Di usianya yang masih 6,5 tahun yang seharusnya waktunya dibuat untuk bermain bersama dengan teman sebayanya, tetapi tidak bagi Azizah Candrasari.

Azizah harus  menggantikan peran ibunya mengurus rumah, ayahnya yang sedang sakit, serta adiknya Agip Pranata yang berusia 5 tahun. Ibunya telah lama pergi dan tak diketahui keberadaannya.

Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai resmi mengambil alih perawatan Azizah Candrasari dan adiknya, Agip, di Kotagede, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (18/4/2026).

Langkah ini diambil setelah kisah bocah tersebut yang harus mengurus rumah dan ayahnya yang sakit sendirian menarik perhatian publik.

Kabar mengenai  Azizah Candrasari, bocah perempuan yang setiap hari berkutat dengan karung rongsokan demi membantu ayahnya, sampai juga ke telinga orang nomor satu di Kota Yogyakarta.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambangi Azizah dan keluarganya yang kini telah ditampung di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, Kemantren, Kotagede, Yogyakarta.

Hasto mengatakan, kedatangannya tersebut tak sekadar menjenguk, namun juga membawa komitmen penuh untuk memutus rantai kemiskinan yang membelit bocah cerdas tersebut.

​”Saya menegaskan, bahwa kehadiran pemerintah adalah kewajiban mutlak, terutama ketika menyangkut kebutuhan dasar seperti pendidikan dan kesehatan anak. Pemerintah harus hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar, itu wajib. Tidak boleh Azizah diajak kerja dulu, lalu tidak sekolah, dan kesehatannya tidak terurus,” ujarnya kepada awak media, Minggu (19/4/2026).

Hasto menuturkan, meski secara data kependudukan keluarga Azizah tercatat sebagai warga Jomblangan, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Hasto enggan terjebak dalam sekat birokrasi.  Untuk urusan kemanusiaan di wilayah aglomerasi Yogyakarta pada khususnya, harus diselesaikan secara kolektif tanpa memandang batas daerah. ​

“Prinsipnya, kami ingin membantu. Jangan setiap orang (bilang) ‘wah ini bukan warga saya’ terus selesai. Ya jangan begitulah. Kita bisa menghubungi pemerintah setempat. BPJS-nya juga langsung kami bantu aktifkan, berkoordinasi dengan Bantul,” ungkapnya.

Sementara itu, ayah Azizah Candrasari, Harmanto mengatakan, istrinya telah pergi tanpa kabar sejak Agip masih berusia lima bulan. Keberadaannya hingga kini tak diketahui.

“Untuk bertahan hidup, saya mengayuh sepeda keliling kota mencari botol plastik dan kardus,” tuturnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *