Mabur.co – Memperingati Hari Sepeda pada 19 April, sejarah mencatat bahwa hingga saat ini ada beberapa warga Indonesia yang berhasil keliling dunia dengan menggunakan sepeda.
Namun hanya ada satu orang yang paling dulu atau pertama kali melakukannya. Dia adalah Muhammad Jusuf Sokartara.
Lelaki asal Berastagi, Sumatra Utara ini, tercatat mengelilingi dunia menggunakan sepeda pada tahun 21 November 1969 selama kurang lebih 1,5 tahun.
Selama perjalanannya itu, Jusuf yang merupakan atlet sepeda pada masanya itu tercatat melewati puluhan negara mulai dari Asia hingga Eropa.
Dikutip dari situs Perpustakaan Nasional RI dan IDN Times, Minggu (19/4/2026), Muhammad Jusuf Sokartara memulai kisah perjalanan epiknya pada 21 November 1969.
Pria kelahiran 14 Maret 1944 itu awalnya tak berniat melakukan perjalanan keliling dunia menggunakan sepeda. Sebab saat itu ia hanya ingin bersepeda menuju ke Tanah Suci Makkah.
Namun karena tak punya uang untuk melakukan perjalanan internasional, ia pun berniat meminta sponsor biaya kepada sejumlah rekannya di Jakarta.
Bermodal uang Rp3.350 ia pun memulai rute perjalanannya dari Medan ke Jawa. Saat itu Jusuf sudah harus menghadapi kesulitan karena tertahan di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang.
Beruntung, ia bertemu dengan kapten kapal Batanghari yang kemudian membantunya menyeberang ke Jakarta bersama sepedanya.
Sesampai di Jakarta, ia lalu menemui sejumlah donatur seperti Alamsjah Ratu Perwiranegara, Adam Malik, hingga Ibnu Sutowo.
Akhirnya, ia dapat terbang ke Singapura bersama sepedanya dengan membawa uang 52 dollar AS hasil sumbangan dari orang-orang yang ditemuinya.
Dari Singapura itulah ia pun memulai petualangannya selama satu setengah tahun yang bukan hanya sekadar menguji ketahanan fisik, tetapi juga menguji mentalnya.
Selama perjalanan melintasi berbagai negara, berbagai pengalaman suka cita pernah dialami Jusuf.
Ia mengaku pernah mengalami cobaan berat di Kota Sangrung, Negara bagian Punjab, di India Utara.
Saat itu ia bahkan harus ditangkap petugas keamanan selama sebulan, dengan tuduhan sebagai mata-mata saat tengah berkecamuk perang antara India dan Pakistan.
Lalu, dari India ia menyeberang ke Pakistan. Namun, di negara ini, ia justru disambut hangat sebagai warga Indonesia, tanpa pemeriksaan ketat, bahkan justru dijamu oleh penduduk setempat.
Dari Pakistan, Jusuf lalu melanjutkan perjalanan menuju Afganistan untuk menuju ke Iran. Namun, tak disangka olehnya karena di Afganistan inilah impiannya untuk mengayuh sepeda ke Tanah Suci pupus.
Kedutaan Besar Indonesia di Afganistan saat itu menilai kehadirannya justru merepotkan, sehingga langkahnya menuju tujuan tersebut terpaksa dihentikan.
Meski gagal ke Tanah Suci, Jusuf tidak menyerah. Ia tetap melanjutkan perjalanannya keliling dunia, dengan menjelajahi berbagai negara termasuk kawasan Eropa Timur hingga Uni Soviet.
Baginya, perjalanan bukan soal rencana matang, melainkan keberanian untuk melangkah. “Kunci saya hanya pasrah dan ikhlas, pasti ada jalan,” ujarnya.
Nama “Sokartara” sendiri bukanlah nama lahir atau nama asli Jusuf. Julukan itu diberikan oleh teman-temannya semasa kecil karena Jusuf dikenal selalu bepergian dan tidak pernah betah berlama-lama di satu tempat.
Sehingga ia sulit dicari atau ditemukan. Nama Sokartara sendiri berarti susah dicari, payah didapat, tiada tara.
Meski hanya mengenyam pendidikan hingga kelas IV SD (Sekolah Rakyat), Jusuf dikenal memiliki wawasan dan pergaulan yang luas serta kemampuan bahasa yang mengesankan.
Selain menguasai bahasa daerahnya Karo, ia juga bisa berbahasa Inggris, Urdu, Jerman, dan Belanda. Kefasihannya dalam bahasa Belanda diperoleh selama puluhan tahun tinggal di Amsterdam, di mana ia bekerja selama 43 tahun di bagian kargo maskapai KLM, dekat Bandara Schiphol.
Kini, setelah puluhan tahun merantau, Jusuf memilih kembali ke Medan. Ia menjalani hidup dengan tenang di sebuah rumah unik berbentuk sepatu yang ia bangun dengan biaya mencapai Rp3 miliar.
Kisah hidup Muhammad Jusuf Sokartara menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Dengan keberanian, ketekunan, dan keyakinan, ia menorehkan jejak inspiratif sebagai pesepeda Indonesia yang menaklukkan dunia.



