Mabur.co – Perwujudan doa bisa datang dari mana saja. Salah satunya berasal dari karya sastra.
Salah satu siswi Madrasah Aliyah (MA) Pamulangan, Godean, Sleman, Frisca Nazula Pawestri, seperti terilhami untuk mengucapkan doa melalui buku cerpen yang ia tulis sendiri, dengan judul yang terkesan subjektif, namun sangat “gue banget”, yakni Frisca.
Cerpen berjudul Frisca adalah hasil kontemplasi panjang seorang Frisca Nazula Pawestri, terhadap sekelumit kisahnya di masa lalu, serta cita-citanya di masa depan, yang masih menjadi misteri bagi dirinya sendiri.
“Cerita di buku ini ada yang saya karang sendiri, dan ada sedikit cerita pribadi yang saya masukkan di dalam keseluruhan cerita,” ucap Frisca, dalam kegiatan Selasa Sastra spesial hari Kartini bertajuk “Memburu Biru, Mengeja Senja”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, Bejen, Bantul, belum lama ini.
Frisca menambahkan bahwa dirinya sangat mendambakan menjadi orang sukses dan berguna bagi banyak orang, serta mampu mengenyam kuliah di perguruan tinggi ternama, meskipun berasal dari keluarga yang ekonominya kurang stabil.
“Ada satu cerita dunia perkuliahan, di situ saya karang, dengan harapan aku akan bisa seperti itu (sesuai yang dikarangnya sendiri). Itu jadi tentang pribadi saya, tapi ada yang aku sesuaikan sedikit. Dengan harapan aku bisa seperti itu di masa depan,” tambah Frisca.
Sementara bagi Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan cerpen ini, judul Frisca dianggap sangat menjual dan unik, sekaligus benar-benar mewakili “doa” maupun impian penulisnya sendiri, yang memang terbilang unik oleh orang-orang di lingkungan sekolahnya, termasuk bagi Endang sendiri.
“Mbak Frisca ini tipikalnya unik banget. Dia itu orangnya slowly but sure. Jadi santai tapi terarah, gitu. Jadi itulah kenapa saya meminta dia untuk membuat karangan sendiri. Kebetulan setelah saya baca naskah buku Frisca ini, isinya memang cukup ringan (mudah dimengerti oleh pembaca awam). Jadi menurut saya, Frisca ini sendiri memang sudah unik, termasuk namanya juga nggak ada satu pun di sekolah yang namanya sama dengan dia,” ujar Endang Winarsih, guru pembimbing Frisca dalam proses penulisan buku cerpen Frisca, pada kesempatan yang sama.
Meskipun sempat ingin menyerah dalam menyelesaikan “doa” ini, namun berkat dukungan dari pihak sekolah (MA Pamulangan) serta teman-teman di sekitarnya, Frisca akhirnya mampu menyelesaikan seluruh naskah di dalam buku ini, untuk kemudian “diaminkan” oleh para pembaca.
Selain sesi bedah buku, ada pula pertunjukan sastra spesial dari para siswi MA Pamulangan, dan masih banyak lagi. (*)



