Mabur.co – Meskipun sudah dua tahun berlalu sejak Pilpres 2024, nampaknya kubu yang kalah memang masih belum bisa melupakan kekalahannya dalam kontestasi politik lima tahunan tersebut.
Dalam beberapa kesempatan, baik pasangan Anies-Cak Imin maupun Ganjar-Mahfud, mereka kerap “meluapkan” unek-unek terkait jalannya pemerintahan saat ini, yang dipimpin oleh pasangan Prabowo-Gibran.
Tak jarang, mereka turut membandingkan kinerja rezim yang berkuasa saat ini, dengan periode ketika mereka juga berada di dalam pemerintahan. Misalnya ketika Anies Baswedan yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ganjar Pranowo sebagai pemimpin di Jawa Tengah selama dua periode, maupun Mahfud MD saat menjadi Menkopolhukam, Ketua Mahkamah Konstitusi, dan seterusnya.
Selain itu, mereka juga kerap mengisi beberapa seminar ataupun kajian yang bertemakan “kepemimpinan” alias leadership. Dimana publik ingin mengetahui pandangan mereka terkait kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintahan saat ini, yang kemudian dibandingkan dengan zaman mereka saat masih menjabat di tingkat daerah.
Entah suatu kebetulan atau tidak, yang jelas kehadiran mereka (terutama Anies dan Ganjar) dalam beberapa forum sepertinya memang didesain untuk menyindir secara halus pihak pemerintah saat ini, yang dianggap banyak pihak sudah melanggar konstitusi, tidak layak jadi presiden, bahkan terancam dimakzulkan oleh rakyatnya sendiri.
Sebuah “kesempatan dalam kesempitan” yang sepertinya memang tinggal menunggu waktu untuk segera terjadi.
Sebagian netizen pun mulai ikut-ikutan “memanaskan suasana”. Banyak yang berkomentar bahwa seharusnya Anies atau Ganjar lah yang lebih pantas menduduki kursi RI 1 ketimbang Prabowo, dan seterusnya.
Sementara pihak pendukung Prabowo, selain terus menikmati kekuasaan idolanya, mereka juga selalu hadir dengan argumen klasik “belum move on dari hasil Pilpres” dalam beberapa kali kesempatan wawancara.
Apapun dinamika yang sedang terjadi saat ini, ajang “lucu-lucuan politik” di luar kontestasi Pilpres ini memang sangat menarik untuk dinantikan ujung ceritanya. Karena siapa tahu, klimaksnya akan segera terjadi sebentar lagi, tanpa harus menunggu pelaksanaan Pilpres tahun 2029 mendatang.
Jika skenario itu benar-benar terjadi, maka siap-siap saja, sindiran-sindiran halus ala Anies, Ganjar, maupun Mahfud MD dalam beberapa kesempatan tersebut, akan menjadi umpan balik bagi mereka sendiri, manakala kursi kekuasaan itu benar-benar lowong, dan menjadi rebutan banyak politisi.
Prabowo sendiri banyak mengucapkan kritik (menyindir), ketika Jokowi berkuasa selama dua periode pada 2014 hingga 2024 lalu. Namun, setelah Prabowo akhirnya mendapatkan kekuasaan tersebut, ia pun tidak sanggup berbuat apa-apa, dan pastinya tidak sesuai dengan omon-omonnya sendiri saat masih menjadi oposisi.
Itu artinya, sehebat-hebatnya ucapan Anies, Ganjar, maupun Mahfud dalam beberapa kesempatan, bukan berarti bahwa mereka akan mampu menjalankan ucapannya sendiri, seandainya kursi kekuasaan itu sudah mereka dapatkan kelak di kemudian hari.
Pada akhirnya, “siklus” semacam ini (banyak menyindir saat menjadi oposisi, namun tidak bisa berbuat banyak saat sudah berada di dalam kekuasaan) hanya akan menjadi “lingkaran setan” yang terus berulang dari waktu ke waktu, yang tidak kunjung menemukan titik temu di tengah.
Mendapatkan kekuasaan memang bukan segalanya, tapi dari gelagat yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, terlihat jelas bahwa orang-orang itu masih belum move on dari hasil Pilpres lalu. Sehingga mereka kerap menjadikan sindiran halus sebagai strategi “licik”, untuk mengatakan (dalam hati) bahwa “seharusnya saya yang ada di sana (pemerintahan)”.
Jangan pernah termakan dengan sindiran-sindiran semacam itu, karena belum tentu juga mereka akan kuat melawan “godaan”, andaikan kursi kekuasaan itu benar-benar jadi milik mereka. (*)



