Mabur.co – Warga Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dibuat heboh dengan kemunculan fenomena alam unik dan langka berupa awan pelangi yang terjadi Jumat (1/5/2026) sore.
Fenomena awan yang nampak warna-warni seperti pelangi ini terlihat sekitar pukul 14.00 WIB.
Selain cukup jarang terjadi, fenomena langka ini pun langsung menarik perhatian warga.
Saking indahnya awan pelangi tersebut, tak sedikit warga masyarakat yang merekam dan mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon seluler dan diunggah di media sosial.
Salah seorang warganet yang turut membagikan momen kemunculan awan pelangi itu adalah Arif.
Melalui akun Instagram pribadinya ia nampak menunjukkan warna-warni indah yang muncul menghiasi langit di sekitar tempat tinggalnya menggunakan telepon genggamnya.
“Ini fenomena awan yang indah banget, walau kalau lihat langsung agak aneh. Tapi memang keren sekali,” ujarnya.
Dalam video yang direkam itu tampak gradasi warna pelangi muncul di antara gumpalan awan putih dengan latar langit biru cerah.
Pemandangan tersebut juga banyak dibagikan warganet lainnya di berbagai platform media sosial.
Menurut informasi yang beredar, fenomena awan pelangi itu berlangsung sekitar 30-40 menit. Sebelum akhirnya hilang dengan sendirinya.
Dikutip dari berbagai sumber, fenomena awan pelangi ini sendiri dikenal sebagai nama awan iridesensi atau cloud iridescence, yaitu peristiwa optik atmosfer yang terjadi ketika cahaya matahari terdifraksi oleh butiran air atau kristal es berukuran sangat kecil di dalam awan.
Berbeda dari pelangi biasa (refraksi), awan pelangi seringkali berbentuk gumpalan warna yang menempel pada awan, sering disebut juga Pileus.
Sementara itu, dikutip Kumparan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sendiri menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan peristiwa alam yang umum terjadi.
“Warna pelangi muncul karena cahaya Matahari berinteraksi dengan butir-butir air di udara, baik dari sisa hujan maupun hujan yang sedang terjadi di sisi lain. Pada saat yang sama, tampak adanya awan towering cumulus yang dapat menutupi sebagian pelangi, sehingga bentuknya terlihat tidak utuh atau tampak seperti ‘awan pelangi'” ujar Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani.



