Mabur.co – Ultimatum keras dikeluarkan oleh ekonom atau pengamat ekonomi, Ferry Latuhihin, kepada Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, terkait kondisi ekonomi yang kian memburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Alih-alih mengakui kesulitan yang dialaminya maupun pemerintah secara keseluruhan, Purbaya justru sering menyanggah ucapan-ucapan para ekonom (termasuk Ferry Latuhihin sendiri), dengan mengatakan bahwa fundamental ekonomi masih kuat, ekonomi tumbuh 5,61%, uang kita masih banyak, dan seterusnya.
“Nilai mata uang itu sudah mencerminkan fundamental (ekonomi negara yang bersangkutan). Jadi melemahnya Rupiah kita terhadap Dollar memang karena fundamental ekonomi kita reot (menuju kerusakan). Itu udah nggak bisa dibohongin. Sekalipun Menteri (Purbaya) atau siapapun itu ngomong bahwa ‘fundamental (ekonomi) kita kuat’, toh buktinya orang tetep keep buying Dollar sehingga Rupiah melemah, kan gitu. Market kan nggak bodoh, investor kan nggak bodoh. Mereka nggak bisa dibohongin dengan kata-kata seperti itu (fundamental ekonomi kuat dan lain-lain). Itu semua nonsense,” ucap Ferry Latuhihin, sebagaimana dilansir dari kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Jumat (15/5/2026).
Atas berbagai situasi ekonomi yang semakin buruk belakangan ini, Ferry bahkan secara terang-terangan meminta Purbaya untuk mundur dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan, dan menyerahkan jabatannya kepada sosok yang lebih memahami cara mengelola APBN dengan baik dan benar. Sehingga tidak akan menghasilkan nilai tukar Rupiah yang sedemikian anjlok seperti saat ini.
“Pesan saya kepada Purbaya, simpel, mengundurkan diri aja (dari jabatan Menteri Keuangan). Saya serius. berikan kesempatan (menduduki jabatan Menteri Keuangan) kepada orang yang paham mengelola APBN kita,” tambah Purbaya.
Ucapan Ferry tentu saja bukan didasarkan pada dendam pribadi atau kebencian terhadap pemerintah. Namun menurut Ferry, rekam jejak Purbaya sejak mengambil alih posisi Menkeu dari Sri Mulyani pada September 2025 lalu, sama sekali tidak membawa perubahan yang signifikan bagi kondisi ekonomi nasional.
Hal itu sangat bertolak belakang dengan ucapannya usai dilantik oleh Presiden Prabowo pasca-periode demonstrasi Agustus 2025 lalu, di mana ia sesumbar akan mampu memperbaiki kondisi ekonomi Indonesia, dan sudah berpengalaman di pemerintahan sejak era Presiden SBY. (*)



